Belajar Buat Ekstasi dari Internet, Produknya Ada Berlogo SpongeBob

DENPASAR – Sam To, pembuat narkoba skala rumahan ternyata seorang residivis kasus narkoba. Lelaki yang ditangkap Satres Narkoba Polresta Denpasar ini sebetulnya penjual ikan.

Diketahui, Sam To ditangkap di rumahnya di Perumahan Kerta Petasikan, Jalan Tukad Balian, Denpasar Selatan, Rabu (14/7) sekitar pukul 16.30. Sebab, kediaman residivis ini dijadikan tempat produksi narkotika jenis ekstasi.

Terbukti polisi amankan sejulah barang bukti yang dipakai membuat narjoba dan juga disita 286 butir ekstasi siap edar.

Kapolresta Denpasar Kombes Jansen Avitus Pandjaitan mengatakan, kasus ini terungkap atas informasi masyarakat bahwa kerap terjadi transaksi narkoba dikawasan kawasan Perumahan Kerta Petasikan pada pekan lalu, dan tim juga lalu melakukan pengintaian baik di rumah, termasuk memantau keluar masuknya Sam To saat bepergian.

Tim memutuskan melakukan penangkapan ketika lelaki kelahiran Riau ini keluar rumah dan diduga membawa BB Ekstasi. Polisi melihat, Sam To mengendarai sepeda motor melewati Jalan By Pass Ngurah Rai, Densel dengan melawan Arus lalu lintas menuju Halte Bus Sidakarya Densel. Di sanalah dilakukan penangkapan, Rabu (14/7) sekitar pukul 16.00. Ia sempat mengelabui petugas dengan membuang botol kecil yang dibalut plaster hitam.

Dia sempat mengetahui bahwa dibuntuti polisi sehingga ia sempat menancap gas dan terjadi kejar-kejaran. “Sekitar 300 meter tersangka dapat diamankan selanjutnya tersangka dibawa ke lokasi menjatuhkan botol yang diplaster tersebut, setelah dibuka ditemukan Barang bukti 5 butir ekstasi warna merah,” paparnya. Ia pun tak berkutik dan mengaku dengan jujur bahwa bb yang dibuang itu miliknya sendiri.

Selanjutnya dilakukan penggeladahan di kediaman pria penjual ikan ini . Di dalam kamarnya polisi  ditemukan barang bukti 281 butir ekstasi berat bersih 92,92 gram dan barang-barang yang digunakan untuk memproduksi ekstasi.

Baca juga: Jamin Kasus Berlanjut, Penetapan Tersangka Tunggu Audit BPKP

“Di sana baru ketahuan bahwa kediamannya dijadikan rumah produksi narkoba jenis ekstasi. Total ekstasi miliknya 186 butir,” jelas Kombespol Jansen, Kamis, 22 Juli.

Sam To belajar memproduksi ekstasi skala home industri dari media sosial selama beberapa bulan. Kemudian dia jual ke beberapa orang di wilayah Denpasar selama empat bulan belakangan. Dari hasil laboratorium, ekstasi yang diproduksi oleh Sam To kualitasnya hampir sama dengan ekstasi pada umumnya.

“Dia produksi sendiri dengan belajar dari internet,” ujar Jansen.

Sam To mengaku sudah 4 bulan memproduksi ekstasi dengan modal Rp5 juta. Dalam satu pekan, dia bisa memproduksi 100 butir ekstasi. Ekstasi hasil cetakannya kemudian diedarkan di seputaran Denpasar dan dijual Rp 290 ribu per butir.

“Kita akan kembangkan, kita duga ini dia banyak ada yang terlibat yang lain,” papar Jansen.

Polisi menyebut bahan dasar pembuatan ekstasi menggunakan berbagai obat keras yang sebenarnya diperoleh harus didapatkan berdasarkan resep dokter. Petugas akan kembangkan ini, sebab kenapa bisa diperolehnya dengan mudah.

“Karena barang-barang keras ini apalagi yang berlabel merah ini, dia harus dengan resep dokter. Nanti kita kembangkan,” ujarnya.

Pelaku menurut Jansen adalah residivis kasus narkoba. Dia pernah dipenjara dan bebas pada Desember 2020. Setelah bebas, bukannya bertobat malah melakukan aksi dengan menjual atau membuat ekstasi dengan belajar dari internet.

“Dalam 1 minggu tersangka sudah mencetak 2 kali sebanyak 50 hingga 100 butir ekstasi berbagai macam logo. Di antaranya logo Superman, Rolex, Teddy Bear, Banteng dan SpongeBob,” cetusnya.

Dia dijerat dengan UU Narkotika yakni Pasal 112 ayat (2) dan Pasal 113 ayat (1) UU. RI. No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika dengan ancaman hukuman penjara minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun dan denda Rp1 miliar dan maksimum 10 miliar.

Sumber Radar Bali

Leave a Reply