Krisis Oksigen di Seluruh RS di Bali Berlanjut, Ternyata Ini Pemicunya

DENPASAR – Masih tingginya kasus positif Covid-19 di Bali menyebabkan kebutuhan oksigen di hampir seluruh rumah sakit di Bali meningkat.

Akibat peningkatan kebutuhan oksigen, banyak RS di Bali yang mulai kelimpungan karena menipisnya stok.

Seperti yang terjadi di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar.

Baca juga: Liga 1 Tak Kunjung Bergulir, Raka: Bukan Jenuh, Melainkan Galau!

Di RS terbesar di Bali ini, kebutuhan oksigen juga mengalami peningkatan.

Seperti dibenarkan Direktur Utama RSUP Sanglah Denpasar dr I Wayan Sudana. Saat dikonfirmasi, ia juga membenarkan dengan peningkatan kebutuhan oksigen untuk pasien.

Namun demikian, untuk menyiasati krisis oksigen, Sudana mengaku jika di RSUP Sanglah mendapatkan dua sumber oksigen, yakni dari liquid cair dan gas yang menggunakan tabung.

“Yang liquid pun ada dua tangki. Kedua Tanki tersebut biasanya pengisiannya itu paling lambat setiap dua kali sehari sebelum habis. Selama ini selalu lancar pengisiannya,” ujarnya.

Berapa kebutuhan oksigen di RSUP Sanglah saat ada pelonjakan kasus di Bali?

“Kalau kami hitung, kebutuhan ketersediaan O2 (oksigen) dalam sehari-harinya, itu antara 2000-2500 meter kubik. Untuk persediaan, rata-rata dua kali lipat, itu 4000 sampai 5000 meter kubik,” ujar Sudana.

Kebutuhan di setiap rumah sakit ternyata berbeda-beda. Di RS Mangusada, Kabupaten Badung misalnya, dalam sehari bisa membutuhkan 1300 liter.

Karena ketersediaan terbatas, Satgas Covid 19 di Bali pun membagi tabung oksigen di seluruh rumah sakit di Bali. Tabung oksigen yang di produksi samator Kapal ini pun disebar berdasarkan kebutuhan rumah sakit.

Sementara itu, untuk mengantisipasi krisis oksigen, Kementerian Kesehatan RI mendapatkan bantuan oksigen dari Pemerintah Singapura.

Untuk penyebarannya, akan diberikan kepada berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, terutama rumah sakit vertikal Kemenkes di Jawa dan Bali.

Setidaknya ada bantuan sebanyak 11.000 oksigen konsentrator dari Singapura yang didistribusikan ke rumah sakit di Jawa dan Bali. 

Bila dihitung secara garis besar, kebutuhan pasokan oksigen di Jawa dan Bali dalam penanganan kasus Covid-19 sebanyak 2.620 ton  per hari.

Sedangkan kemampuan produksi di Indonesia ternyata 1400 ton per hari.

Defisit oksigen pun tak terbendung, melihat jumlah produksi dibanding dengan kebutuhan.

Hal ini lagi-lagi karena kasus Covid-19 selama PPKM Darurat belum menurun.

Data terbaru dari Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Bali, tercacat ada penambahan sebanyak 880 orang pada tanggal 20 Juli 2021 dan kasus aktif tercatat sebanyak 7.630 orang.

Sedangkan untuk yang sembuh ada sebanyak 533 orang dan 23 pasien dinyatakan meninggal terkonfirmasi positif Covid 19. 

Sumber Radar Bali

Leave a Reply