Meski Diguyur Hujan, Produksi Cabai Kecil di Karangasem Meningkat

AMLAPURA – Guyuran hujan beberapa pekan lalu sempat membuat sejumlah tanaman cabai di beberapa desa di Karangasem membusuk. Meski demikian, secara kumulatif, komoditas tanaman hortikultura cabai kecil di Karangasem mengalami peningkatan produksi di masa pandemi ini.

Meningkatnya produksi cabai kecil ini dipicu beberapa hal. Salah satunya masyarakat perantau asal Karangasem selama masa pandemi memilih pulang kampung dan menggarap lahan. Di sisi lain, beberapa bulan lalu harga cabai meningkat drastic sehingga memicu banyak warga menanam cabai.

Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Karangasem, I Putu Suarjana membeberkan data capaian produksi tanaman yang memiliki nama latin Capsicum frutescens dalam kurun waktu tahun 2020 lalu.

Capaian di tahun itu, produksi cabai kecil atau rawit ini mencapai 5.440 ton. Jumlah ini mengalami peningkatan drastis jika dibandingkan tahun 2019 yang hanya mencapai 2.790 ton.

Baca juga: Kesadaraan Patuhi Prokes Meningkat, Tapi Covid di Badung Melonjak

“Padahal jumlah luas tanamnya turun jika dibandingkan tahun 2019. Luas tanam cabai rawit tahun 2019 mencapai 664 hektare, di tahun 2020 turun menjadi 590 hektare,” tuturnya.

Namun lanjut Suarjana, pihaknya cukup kesulitan untuk menghimpun data pasti di lapangan. Kondisi ini akibat banyak petani yang tidak melaporkan jumlah luas tanam kepada petugas Dinas Pertanian di masing-masing kecamatan.

Untuk produksi terbesar cabai rawit terjadi di Kecamatan Sidemen yang dikenal sebagai sentra pengembangan cabai rawit di Karangasem.

“Harga cabai rawit di pasaran Rp30 ribu perkilogram. Tidak anjlok sekali. Artinya petani masih dapat untung,” kata Suarjana.

Peningkatan ini lanjut dia karena masyarakat Karangasem yang merantau memilih pulang kampung akibat tidak adanya pekerjaan di kota karena pandemi. Sehingga, lahan-lahan yang sebelumnya ditinggal atau ditanami komoditas lain kini digarap denga menanam cabai atau jenis sayuran lainnya.

“Harapannya agar meningkat terus, produksi biar surplus,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut Suarjana peningkatan produksi juga karena petani sudah memakai benih bersertifikat, petani juga sudah menerapkan budidaya tanaman yang baik dan benar serta memelihara tanaman secara intensif dibantu dengan petugas di masing-masing kecamatan.

“Petani kita juga sudah menerapkan pengendalian hama dan penyakit dengan benar dibantu petugas di masing-masing kecamatan,” imbuhnya.

Berbanding terbalik dengan cabai rawit, dua komoditas lainnya seperti cabai besar dan bawang merah yang mengalami penurunan produksi. Untuk cabai besar di tahun 2019 produksinya mencapai 539 ton, sementara di tahun 2020 hanya mencapai 522 ton.

Begitu juga untuk bawang merah, di tahun 2019 mencapai 525 ton sementara di tahun 2020 hanya 452 ton.

“Itu fluktuatif. Ada yang luas tanamnya meningkay tapi produktivitasnya menurun. Jadi ada peninngkatan dan penurunan antara luas tanam dengan produksi,” ujar Suarjana.

Ke depan, Pemkab Karangasem tengah mengupayakan untuk membuat Perusahaan Daerah (Perusda) bertujuan membeli produk-produk hasil pertanian dengan harga yang berlaku di pasaran saat itu.

“Dengan begitu petani lebih sejahtera tidak lagi memikirkan pemasaran. Jadi petani kita fokus meningkatkan produksi,” tandasnya.

Sumber Radar Bali

Leave a Reply