Asrama Undiksha Penuh, Asrama SMA BM Dilirik Jadi Lokasi Karantina

SINGARAJA – Asrama mahasiswa Undiksha Singaraja di Desa Jinengdalem, akhirnya benar-benar tak mampu menampung pasien asimtomatik covid-19. Penuh.

Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng akhirnya harus putar otak mencari lokasi karantina terpadu baru. Salah satu yang dilirik adalah fasilitas asrama siswa di SMAN Bali Mandara dan SMKN Bali Mandara.

Sebenarnya Asrama Mahasiswa Undiksha diproyeksikan menampung 176 orang. Tapi dari daya tampung sebanyak 176 tempat tidur, rupanya hanya 142 tempat tidur yang dapat digunakan.

Baca juga: Dua Pekan PPKM Darurat, Kasus Harian Covid-19 di Bali Tembus 1.019

Sisanya tak bisa digunakan karena berbagai kendala. Mulai dari tempat tidur rusak, masalah kelistrikan, hingga ketersediaan air bersih.

Sabtu pagi (17/7) satgas akhirnya menjajaki fasilitas lain. Yakni asrama siswa di SMAN Bali Mandara dan SMKN Bali Mandara. Pantauan Jawa Pos Radar Bali, fasilitas itu berupa barak siswa. Berbeda dengan fasilitas di asrama mahasiswa yang berupa kamar.

Meski berupa barak, satgas menyatakan fasilitas itu sudah layak. Sehingga asrama siswa juga akan digunakan sebagai lokasi karantina. Selain itu, bangunan klinik di areal sekolah juga akan digunakan sebagai lokasi karantina khusus bagi tenaga medis yang terpapar covid-19.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Ketua Harian Satgas Provinsi. Beliau mengizinkan kami mengoptimalkan fasilitas ini. Karena di Asrama Undiksha juga sudah penuh. Sehingga kami putuskan memanfaatkan fasilitas ini,” kata Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng Gede Suyasa.

Sebenarnya kapasitas asrama siswa di sana mencapai 400 tempat tidur. Tapi satgas memutuskan hanya 200 tempat tidur yang digunakan sebagai lokasi karantina. Apabila masih terjadi lonjakan kasus, maka daya tampung akan dioptimalkan menjadi 300 tempat tidur.

Apabila masih membutuhkan tambahan tempat tidur, satgas akan menjajagi fasilitas asrama siswa di SMA Taruna Mandara. Mengingat sekolah itu juga memiliki fasilitas serupa. Hanya saja satgas masih harus melakukan penjajagan secara resmi pada pihak yayasan.

“Di SMA Taruna Mandara juga ada fasilitas yang sama. Kondisinya cukup bagus. Bisa menampung 100 orang. Ini akan kami jadikan lokasi alternatif. Sambil kami melakukan pendekatan dengan yayasan,” imbuh pria yang mantan Kepala Disdikpora Buleleng itu.

Menurut Suyasa pihaknya harus mempercepat upaya mitigasi. Sebab jumlah pasien asimtomatik terus merangkak naik. Sehingga pemerintah menyiapkan dua skema yang dilakukan secara bersamaan pada masa pandemi.

Skema pertama, pemerintah mempercepat proses vaksinasi. Sehingga kasus dapat ditekan. Skema kedua, pemerintah menyiapkan fasilitas karantina terpusat. Sehingga peluang penularan virus dari pasien asimtomatik ke warga, dapat ditekan.

“Dua skema ini kami lakukan secara bersamaan. Sehingga sedapat mungkin kasusnya segera turun. Bila mungkin kasusnya nol. Kalau kita tidak cepat membuat lokasi karantina terpusat, maka peluang penambahan kasus dari masyarakat yang melakukan kontak erat juga akan lebih tinggi,” tegas Suyasa.

Lebih lanjut dijelaskan, pemerintah sebenarnya sudah menjajagi beberapa hotel pada Kamis (15/7). Saat rapat bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Buleleng, beberapa pengelola hotel menyatakan bersedia menggunakan hotel mereka sebagai lokasi karantina.

Namun belakangan pengelola hotel menyatakan menolak. “Ternyata habis rapat, mereka menelepon dan menyampaikan secara lisan bahwa owner-nya belum bersedia. Sehingga kami mengubah skema. Intinya kami siapkan karantina terpusat, agar yang statusnya asimtomatik, tanpa gejala, tidak kontak dengan orang lain,” katanya lagi.

Pria yang sempat menjadi Kepala Dinas Budpar Buleleng itu juga menginstruksikan desa kembali mengaktifkan lokasi karantina terpusat di desa.

“Saya sudah minta Kepala Dinas PMD mengarahkan desa, agar melakukan pergeseran anggaran. Supaya bisa menyiapkan lokasi karantina terpusat,” tandas Suyasa.

Sumber Radar Bali

Leave a Reply