Tipu BPR hingga Miliaran Rupiah, Ayu Dewi Dijebloskan ke Penjara

DENPASAR – Ni Luh Putu Ayu Dewi Hermayanti, nasabah BPR Dewata Candradana divonis empat bulan penjara oleh majelis hakim dalam sidang yang digelar di PN Denpasar, Kamis (15/7/2021).

Dalam sidang yang dipimpin oleh hakim ketua Wayan Rumega itu, terdakwa dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana penipuan sebagaimana dalam pasal pasal 378 KUHP. 

Putusan terhadap wanita asal Banjar Dalam, Desa Pejaten, Kediri, Tabanan tersebut lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Made Lovi Pusnawan yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan pidana enam bulan penjara.

Baca juga: BRI Dukung Kemenkes dan OJK Sukseskan Program Vaksinasi Nasional

Siswo Sumarto dari Bhumi Law Office, Kuasa Hukum BPR Dewata Candradana, berdasarkan salinan putusan membeberkan, modus yang dilakukan Dewi Hermayanti. 

Dalam aksinya dia mencari kredit di bank lalu menginvestasikan uang pinjaman tersebut ke koperasi dengan imbalan bunga satu persen, cash back tiga persen per bulan.

Hal itu bermula pada tahun 2017 lalu. Saat itu Ni Luh Putu Ayu Dewi Hermayanti selaku nasabah mengajukan kredit di Bank Perkreditan Rakyat Dewata Candradana. Di dalam proposal pengajuannya tertulis dana untuk pengembangan usaha dan penambahan modal.

Seperti lazimnya pihak bank memproses adminitrasi kreditur sebelum melakukan akad kredit. Perjanjian kredit  ditandatangani oleh nasabah bersama suami, I Gede Made Agung Wesnawa.

Saat itu dia menjamin tanah tiga SHM dengan total peminjaman Rp. 2,2 miliar. Di awal, pembayaran kreditnya berjalan lancar. 

“Hanya pada bulan Mei 2018 pembayaran mulai macet dan itu pembayaran yang terakhir,” kata Siswo Sumarto di Denpasar, Kamis (15/7).

Ternyata belakangan diketahui, dia menggunakan dana pinjaman itu untuk investasi di koperasi dengan bunga tinggi.

“Bank memberi kredit dengan analisa dari keterangan proposal bohong. Ini kan penipuan yang profesional. Bisa jadi mereka punya jaringan,” ujar pria yang akrab disapa Bowo ini.

Karena pembayaran kredit yang macet, bank kemudian melakukan pendekatan dan pembinaan terhadap nasabahnya itu. 

Namun, bukannya kooperatif, nasabah ini malah menggugat bank secara perdata tahun 2018 di PN Denpasar. Kalah di PN Denpasar nasabah ajukan banding di Pengadilan Tinggi tahun 2020. Kalah juga di banding namun masih ajukan kasasi di MA. Hingga akhirnya pihak bank menemuh jalur hukum.

Sumber Radar Bali

Leave a Reply