Puluhan Siswa Tamatan SD di Buleleng Terindikasi Drop Out

SINGARAJA – Sedikitnya 61 orang lulusan sekolah dasar di Buleleng, terindikasi mengalami drop out. Mereka tak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP.

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng berencana menjajagi siswa-siswa tersebut, setelah masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat berakhir.

Disdikpora Buleleng mengidentifikasi puluhan siswa itu, setelah membandingkan data yang dihimpun dalam proses Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB). Pada tahun ajaran 2020-2021, tercatat ada 11.458 orang siswa yang lulus sekolah dasar.

Baca juga: PPKM Darurat, Bos PO Gunung Harta; Pelan Pelan Kita Mati!

Namun sistem menunjukkan, hanya ada 11.335 orang yang melanjutkan ke jenjang SMP. Itu berarti ada selisih sebanyak 401 orang siswa.

Tim pun langsung melakukan penyisiran. Sebab jumlah selisihnya cukup banyak. Setelah dilakukan penyisiran, sebanyak 151 orang melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah, 66 orang melanjutkan pendidikan di luar Buleleng, dan 73 orang lainnya bersekolah di luar Bali.

Itu berarti ada 61 orang yang belum ditemukan.

“Ini masih kami lakukan penyisiran. Sejauh ini memang sudah ada laporan dari kepala sekolah dasar di beberapa desa, kalau ada siswanya yang tidak melanjutkan ke SMP,” kata Sekretaris Disdikpora Buleleng Ida Bagus Surya Bharata saat dikonfirmasi kemarin (14/7).

Dari laporan sekolah, alasan siswa itu beragam. Ada yang beralasan sakit-sakitan, mengalami keterbatasan akses ke sekolah, termasuk faktor ekonomi. “Malah dari laporan ada juga yang tidak diizinkan melanjutkan sama orang tuanya,” ungkap Surya.

Atas fakta tersebut, Disdikpora Buleleng mengaktifkan kembali Posko Drop Out. Siswa yang tak melanjutkan pendidikan, akan didatangi secara personal. Disdikpora juga akan menggandeng aparat desa dalam melakukan pendekatan.

Apabila terkendala masalah ekonomi, Surya Bharata menyatakan pemerintah akan memfasilitasi beasiswa dan pengadaan pakaian seragam. Sehingga keluarga lebih diringankan.

“Tapi kalau masalahnya tidak dapat dukungan orang tua, tentu pendekatannya berbeda. Kami akan jajagi secara personal. Karena harapannya kan semua anak itu bisa mendapatkan hak mengakses pendidikan selama 12 tahun,” tegasnya.

Sumber Radar Bali

Leave a Reply