Kasus Covid-19 Melonjak, Stok Azithromycin di Bali Mendadak Langka

SINGARAJA– Melonjaknya kasus Covid-19 menyebabkan stok obat antibiotik azithromycin langka.

Kelangkaan terjadi diduga akibat pasokan dari distributor tersendat.

Akibatnya, harga pun terkerek naik. Bahkan akibat melambungnya harga antibiotik azithromycin, membuat sejumlah apotek kini enggan menyimpan obat-obatan tersebut.

Baca juga: Kompetisi AHM Best Student 2021 Regional Bali, Cek 12 Jagoan Sekolahmu

Mereka enggan karena harga yang ditawarkan distributor jauh dari Harga Eceran Tertinggi (HET).

Seperti terungkap saat Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng melakukan pemantauan harga obat-obatan di apotek, Kamis Pagi kemarin (15/7).

Ada tiga apotek besar yang didatangi oleh satgas. Rupanya ketiga apotek itu tak menyimpan obat-obatan untuk teraphi pasien Covid-19.

Salah satu obat yang kerap dicari adalah azithromycin. Obat ini sebenarnya termasuk dalam golongan antibiotik.

Namun dapat juga digunakan sebagai sarana terapi bagi pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

Mengacu HET, obat ini sebenarnya hanya dijual seharga Rp 1.700 per tablet.

Sayangnya, obat ini tak bisa didapatkan di Kota Singaraja. Apotek enggan membeli dari distributor, sebab harga yang ditawarkan distributor berada di atas HET.

Pantauan Jawa Pos Radar Bali, sejumlah apotek mulai memasang informasi harga jual obat yang mengacu pada HET.

Hal itu sesuai dengan SK Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/2021 yang mengatur HET obat-obatan covid-19.

Wakil Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng, dr. I Nyoman Sutjidra mengakui obat-obatan yang diperlukan untuk mencegah Covid-19 mengalami kelangkaan.

Bahkan ada satu obat yang diperlukan kosong. Yakni azithromycin. Hal itu disebabkan distributor yang mematok harga tinggi.

“Jadi apotek di sini tidak berani mengambil obatnya karena melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang ditentukan pemerintah,” kata Sutjidra.

Menurut Sutjidra, saat ini obat-obatan yang masuk kategori antibiotik, antivirus, maupun vitamin sangat dibutuhkan masyarakat pada masa pandemi.

Ia berjanji segera menindaklanjuti keluhan dari pengelola apotek. Sehingga obat-obatan bisa diakses warga dengan mengacu standar harga yang telah ditetapkan pemerintah.

“Nanti Forkompinda di Buleleng akan mencarikan solusi dan memberikan masukan kepada distributor di tingkat provinsi agar betul-betul mematuhi HET yang ditentukan pemerintah. Kami juga akan bekerja sama dengan aparat penegak hukum, agar tidak ada yang menimbun obat-obatan ini,” kata Sutjidra. 

Sumber Radar Bali

Leave a Reply