Adaptasi Hidup Bersama Covid-19

Ir. Dharma Gusti Putra Agung Kresna. (BP/Istimewa)

Oleh Agung Kresna

Singapura memutuskan untuk mempersiapkan rencana jangka panjang dengan blueprint (cetak biru) untuk menjalani hidup bersama Covid-19 setelah hampir dua tahun bekutat menghadapi pandemi. Singapura meyakini bahwa virus Covid-19 tidak akan dapat dilenyapkan, namun hanya akan mereda dan menjadi endemik.

Gagasan cetak biru hidup new normal ini disampakan oleh Menteri Industri dan Perdagangan, Menteri Keuangan, dan Menteri Kesehatan Singapura yang tergabung dalam Satgas Covid-19 Antar-Kementerian Singapura. Dalam era new normal ini, Covid-19 akan diperlakukan sama dengan penyakit yang sudah ada sebelumnya sebagaimana demam berdarah.

Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama lebih dari satu tahun telah mengubah tatanan kehidupan manusia. Berbagai pembatasan pergerakan masyarakat Indonesia dilakukan sebagai upaya memutus rantai penularan. Dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), hingga PPKM Darurat.

Upaya vaksinasi masyarakat juga sudah dilakukan sejak kehadiran vaksin Covid-19 yang diakui WHO, meski otorisasi penggunaannya masih dalam status darurat (emergency use authorization). Tingkat efikasi vaksin (penurunan pasien positif pada kelompok orang yang divaksin -secara penelitian-) juga masih berada di kisaran 60 persen.

Vaksin memang menjadi harapan dalam memutus rantai penularan virus Covid-19, hingga akhirnya dapat tercipta kekebalan kelompok (herd immunity) dan Covid-19 berhenti menular secara pandemi. Namun karena setiap individu memiliki kekebalan yang berbeda, masyarakat penerima vaksin juga belum berarti sepenuhnya tidak bisa tertular Covid-19.

Ada warga yang telah menerima vaksinasi sebanyak dua kali, nyatanya masih bisa terpapar Covid-19. Hal ini terjadi akibat imunitas tubuhnya masih rendah dan ditimpali dengan pola hidup yang tidak sepenuhnya menjalankan protokol kesehatan karena menganggap dirinya telah kebal terhadap virus Covid-19.

Data statistik Johns Hopkins University Medicine 1/7 mencatat Indonesia berada pada urutan ke-17 dari total 223 negara yang melaporkan kasus positif Covid-19 di dunia. Berdasarkan laman resmi Johns Hopkins University Medicine tercatat sebanyak 2.203.108 kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia dari total 181.930.736 pasien positif di dunia.

Angka tersebut menunjukkan Indonesia menyumbang sebesar 1,21 persen dari kasus positif Covid-19 di seluruh dunia. Sementara untuk angka kematian di tanah air telah mencapai 58.995 jiwa atau setara dengan 1,49 persen dari angka kematian secara global yang tercatat 3.945.832 jiwa. Kita tidak tahu kapan pandemi Covid-19 ini akan berlalu.

Namun harus belajar untuk terus melanjutkan hidup meskipun virus Covid-19 masih ada di tengah kita. Jaga masyarakat tetap sehat jasmani dan ekonomi, namun juga harus menerima realitas bahwa akan ada beberapa orang terpapar virus. Adaptasi kehidupan new normal menjadi sebuah keniscayaan.

Adaptasi new normal bersama Covid-19 bukan berarti semua serba bebas. Kehidupan new normal adalah terbiasa menjaga protokol kesehatan dengan ketat, dalam keseharian kehidupan kita, Optimalisasi perangkat teknologi kesehatan guna olah data kondisi kesehatan warga, menjadi suatu keharusan. Kuncinya adalah melaksanakan dengan ketat tiga lapis upaya pelindungan dari penularan Covid-19, secara bersamaan dengan konsisten dan konsekuen.

Lapis pertama adalah gerakan 5M (memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, membatasi mobilitas). Lapis kedua adalah 3T (testing, tracing, dan treatment). Sedang lapis ketiga adalah vaksinasi.

Penulis Arsitek, Senior Researcher pada Centre of Culture & Urban Studies (CoCUS) Bali, tinggal di Denpasar.

Sumber https://www.balipost.com/news/2021/07/14/204286/Adaptasi-Hidup-Bersama-Covid-19.html

Leave a Reply