Terdampak PPKM, Pedagang Pilih Tutup Warung dan Kembali Jadi Nelayan

SELAMA penerapan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, kehidupan para pedagang kuliner di Pantai Lebih, Desa Lebih, Gianyar ikut terdampak.

Penutupan objek wisata pantai membuat omzet para pedagang turun hingga 80 persen. Akibatnya, untuk bisa bertahan hidup, mereka harus memutar otak.

IB INDRDA PRASETYA, Gianyar

Baca juga: Menko Airlangga: Singapura Salah Satu Partner RI Dalam Investasi

SEPERTI diakui Klian Banjar Beten Kelod, Desa Lebih, Kecamatan Gianyar, Wayan Wirta.

Menurutnya, sejak penerapan PPKM Darurat 3 Juli 2021 lalu, pendapatan pedagang kuliner di kawasan Pantai Lebih menurun drastic.

Bahkan tak hanya omzet pedagang, akibat penutupan objek wisata selama PPKM Darurat, sangat minimnya pengunjung juga berdampak pada pendapatan parkir

“Secara umun pendapatan menurun sampai 80 persen. Untuk bisa makan sehari-hari saja sudah sangat bersyukur,” ujar Wayan Wirta saat ditemui, Selasa (13/7).

Menurut Wayan Wirta, di area Pantai Lebih, terdapat sekitar 40 pedagang kuliner.

Rata-rata, saat kondisi normal (sebelum pandemi Covid-19 dan PPKM), para pengunjung sengaja datang ke objek wisata Pantai untuk menikmati kuliner khas ikan laut sambil bersantai menikmati keindahan pantai.

Namun saat ini, dengan tidak adanya pengunjung, para pedagang terpaksa harus mengurangi bahan dagangannya agar tidak rusak.

Mereka menyediakan stok makanan hanya 20 persen. “Pedagang tidak berani stok makanan yang banyak, pengunjung sangat sedikit. Takut stok tidak habis,” ujarnya. 

Bahkan, akibat sepinya lokasi wisata, imbuh Wayan Wirta, tidak sedikit dari para pedagang memilih tutup warungnya.

“Ada pedagang yang memilih tutup warung, menghindari kerugian yang besar,” jelasnya.

Watan Wirta juga menjelaskan, pedagang yang tutup tersebut memilih kembali ke kehidupan sebagai nelayan.

Sebelumnya, di Pantai Lebih ada sekitar 200 orang nelayan yang terdaftar. Dari jumlah itu, yang aktif hanya sekitar 120 orang.

“Kalau situasi begini (PPKM, red) nelayan yang aktif bertambah. Karena pekerjaan di darat sudah berebut dengan banyak orang,” ujarnya.

Dia merinci, pekerjaan di darat, diantaranya seperti sebagai buruh atau tukang peluangnya sangat kecil.

Apalagi saat masa paceklik akibat wabah Corona, sangat sedikit orang yang membangun.

Sedangkan, pedagang kuliner juga ikut melaut lagi. “Jadi sekarang cukup banyak yang kembali melaut,” terangnya.

Disinggung mengenai distribusi tangkapan ikan yang diperoleh, dia mengaku dibawa ke pasar ikan. Ada juga tangkapan yang langsung diambil pengepul.

“Kalau tidak laku, setidaknya untuk kebutuhan di dapur. Ini sebagai alternatif untuk bisa tetap bertahan hidup,” pungkasnya.(*)

Sumber Radar Bali

Leave a Reply