Surut, Air Sumur Keruh dan Amis, Korban Banjir Kesulitan Air Bersih

SEMARAPURA – Luapan air Sungai Candi Gara, Desa Kusamba yang merendam puluhan rumah warga di desa itu, sejak Rabu (9/6) sekitar pukul 06.00 akhirnya surut.

Meski begitu, ada sejumlah warga memilih tetap mengungsi lantaran tempat tinggal mereka yang masih kotor oleh lumpur, bahkan tempat tidur pun basah.

Apalagi ada warga yang mengalami kesulitan air bersih lantaran air sumur milik mereka berwarna keruh dan berbau amis setelah terendam banjir.

Baca juga: Koster Bahas Covid dan Pariwisata, Jokowi Kabulkan 10 Permintaan Bali

Salah seorang warga Banjar Anyar, Desa Kusamba yang rumahnya terendam banjir, Ni Wayan Eden, 40, menuturkan,

hujan deras yang mengguyur Desa Kusamba pada Rabu (9/6) sekitar pukul 05.00, menyebabkan meluapnya air Sungai Candi Gara hingga menyebabkan banjir mulai pukul 06.00.

“Saya dan suami saja yang tidur di rumah di atas meja. Sementara anak dan cucu, saya minta mengungsi ke rumah kerabat,” ujarnya.

Meski air telah surut, menurutnya kondisi rumahnya saat itu belum layak ditinggali. Selain berbau amis, lantai rumahnya juga licin sehingga berbahaya bagi anak, cucu dan sudah barang tentu menantunya yang sedang dalam kondisi hamil.

“Karena di lingkungan sini ada produksi pindang. Jadi pas banjir kemarin, airnya bau amis,” bebernya.

Lebih lanjut ia mengaku kesulitan air bersih sejak banjir terjadi hingga kemarin. Sebab sumur yang selama ini memenuhi kebutuhan air bersih di rumahnya sehari-hari terendam banjir.

Saat banjir surut, air sumurnya keruh dan berbau amis sehingga tidak layak dikonsumsi. “Air sumur saya hanya pakai untuk mandi saja.

Untuk minum, saya beli air mineral. Saya juga tidak masak karena perabotan masih kotor sehingga saya beli makanan,” tandasnya.

Perbekel Kusamba, Nengah Semadi Adnyana membenarkan banjir surut Rabu (9/6) sekitar pukul 19.00.

Pihaknya juga membenarkan bila warga yang memanfaatkan air sumur dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari tidak dapat memanfaatkan air sumurnya karena berbau amis dan berwarna keruh.

“Tapi, tidak banyak warga yang menggunakan air sumur. Yang pakai air sumur, untuk sementara waktu meminta air ke tetangganya yang menggunakan air PDAM untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Sementara itu, Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta kemarin sore meninjau pengerukan yang dilakukan petugas

Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida terhadap material endapan yang menyebabkan pendangkalan di muara Sungai Candi Gara.

Pengerukan dilakukan oleh petugas Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida bersama Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Klungkung dengan menerjunkan satu unit alat berat.

Berdasar keterangan warga sekitar, diungkapkan Suwirta bila hampir setiap pagi sungai itu seperti tong sampah berjalan.

Sampah-sampah tersebut terbawa arus hingga tersangkut di ranting-ranting pohon di sepanjang bantaran sungai Candi Gara wilayah hilir.

Sampah itu selanjutnya mengendap hingga membuat alur sungai menjadi dangkal. “Hari ini kami bersama BWS melihat pengerukan sungai Candigara.

Menurut warga sekitar, hampir setiap pagi sungai ini seperti tong sampah berjalan. Itu artinya masih banyak warga yang membuang sampah ke sungai,” ujarnya.

Menurut Bupati Suwirta, Kabupaten Klungkung telah membuat aturan agar sampah dipilah dari rumah dan setiap desa wajib menyiapkan tempat olah sampah untuk selesai di sumber.

Melihat apa yang terjadi di Sungai Candi Gara, pihaknya mengajak semua pihak untuk berkolaborasi menyelesaikan masalah sampah ini bersama-sama.

“Mari kita berkolaborasi, karena ini bukan urusan pemerintahan saja tetapi urusan semua,” tandasnya.

Sumber Radar Bali

Leave a Reply