Gong Gering Jagat

Kadek Suartaya. (BP/Istimewa)

Oleh Kadek Suartaya

Seorang dalang wayang kulit, Ki Gondho Wartoyo mengamuk di rumahnya di sebuah desa di Boyolali, Jawa Tengah, dengan merusak gamelan yang biasanya dipakai mengiringi pementasannya. Peristiwa yang terjadi pada akhir Maret 2021 yang kemudian diunggah dalam kanal berbasis video itu menggugah perhatian masyarakat hingga pihak pemerintah setempat bahkan pusat.

Salah satu gamelan yang tampak digebuki dengan palu besar secara membabi buta itu adalah instrumen gong. Sembari ngomel mengungkapkan kekesalannya–nafkahnya hancur dilarang pentas gara-gara Covid-19–ia berlaku vandalistis kepada alat musiknya.

Eksistensi gong tersebar luas di bumi Nusantara dengan beragam fungsi, dari yang dibunyikan dalam konteks sakral hingga dihadirkan pada kehidupan praktis sehari-hari. Tentu, sebagai benda seni, instrumen berbentuk bulat ini merupakan suatu kesatuan dari barungan gamelan yang umumnya dijumpai di Jawa, Bali, dan Lombok. Di Jawa, gong adalah benda musikal yang sarat filosofis. Sementara di tengah masyarakat Hindu di Bali, instrumen ini diposisikan begitu takzim. Ritual kepada gong dengan menghaturkan banten gong, wajib dilakukan sebelum sebuah gelaran pertunjukan dimulai. Jika dicermati dalam estetika musikal gamelan Bali, dari perspektif sosiologis, gong adalah simbol tokoh sepuh yang karismatik. Suara gong adalah finalis yang melegitimasi tuntasnya sebuah putaran atau akhir lagu.

Gong berasal dari luar Nusantara. Menurut sejarahnya, benda yang terbuat dari perunggu (campuran timah dan tembaga) ini berasal dari Vietnam. Sebuah bukti peninggalan gong di Thanh Hua menunjukkan bahwa benda ini berasal dari 100 hingga 500 SM. Sementara itu di Yunnan, Tiongkok, gong sudah dimainkan sejak 200 SM. Pada pemerintahan Raja Hsuan Wu di Tiongkok (500-516 Masehi) dikenal adanya gong yang disebut sha-lo yang bunyinya nyaring dan keras, berfungsi dalam budaya pertanian dan ritual keagamaan. Dari Tiongkok, gong menyebar ke Asia Tenggara hingga tanah Hindustan sebagai alat musik pukul yang dalam bahasa Sansekrit disebut ghana vadia. Di persada Nusantara, seperti yang disinggung dalam kesusastraan kuna dan ditemukan pula dalam artepak candi, gong sudah ada setidaknya dari abad ke-9.

Gong memiliki makna filosofis bagi masyarakat Jawa. Bentuk gong yang bundar melambangkan keabadian dan keseimbangan. Konsep harmoni terpancar dalam simbolisme gong sebagai putaran kodrati proses kehidupan yang mengalir dan berdinamika. Sebagai warisan kearifan budaya, gong bagi orang Jawa tradisional adalah sebuah metafora harmoni jagat yang disebut mamayu hayuning bawono atau melestarikan keindahan dunia. Gong dengan sejumlah bentuk dan tugasnya dalam sebuah barungan gamelan dikenal dengan identitas instrumen pencu dari ukuran besar hingga kecil. Cara memainkannya, dipukul dengan digantung secara vertikal dan ada pula disangga dalam bantalan berbaris secara herizontal.

Di tengah masyarakat Bali, gamelan adalah keindahan musik yang berfungsi vital pada kesenian Bali itu sendiri hingga menjadi bagian tatabuhan sakral ritual keagamaan. Gong sebagai instrumen yang dihormati malahan di masa lalu digunakan untuk menyebut semua ansembel gamelan, dari jenis gamelan kuno seperti Gong Luwang hingga gamelan golongan baru seperti Gong Kebyar. Gong Kebyar sebagai barungan gamelan yang umumnya ada di setiap desa, tahun 1980-an, masih lazim hanya disebut (ansambel) Gong saja. Digeneralisirnya sebutan semua gamelan Bali tersebut, menyebabkan hingga kini perkumpulan penabuh gamelan masih lumrah disebut sekaa gong, tak peduli apakah organisasi grup gamelannya berspesialisasi dalam bidang Gong Gede, Semara Pagulingan, atau Angklung.

Gong rupanya bukan hanya mengakar secara filosofis dan estetis di tengah masyarakat Jawa serta memiliki peran yang begitu penting dalam puspa ragam seni budaya Bali. Gaung instrumen gong juga meluas menggapai jagat musik modern. Perkembangannya, gong diadopsi dalam musik modern Barat dengan sebutan tam-tam.

Semenatara sebagai penanda di luar urusan seni, gong juga digunakan dalam bidang olahraga seperti dalam sumo dan tinju. Di Indonesia, pukulan bunyi gong sering didaulat menjadi penanda peresmian atau penutupan acara-acara formal. Gong juga dijadikan simbol toleransi multikulturalisme yang bermuatan harapan akan ketenteraman dunia dalam wujud Gong Perdamaian.

Kini di tengah disrupsi kehidupan yang tak kunjung normal akibat gering jagat pageblug corona, sengaja atau kebetulan, gong menyuarakan rintihan pedih, mengaduh tak berdaya dalam isak degub parau semiotis. Gong yang teraniaya di Boyolali merepresentasikan derita jagat seni dan nestapa hidup pegiat seni di segenap penjuru tanah air.

Pesan yang dikomunikasikan melalui pengerusakan gong tersebut merupakan aspirasi realistis-humanis dunia seni dan kalangan seniman kepada pihak-pihak yang berkompeten untuk mencarikan solusi, menyalakan pelita. Prokes kesehatan dalam penerapan physical distancing dan social distancing memang telah lebih dari setahun memasung dunia seni–seni pertunjukan khususnya–memblokade mata pencaharian para insani seni yang masih berusaha sabar meladeni pemberontakan perutnya.

Penulis pemerhati seni budaya, dosen ISI Denpasar

Sumber https://www.balipost.com/news/2021/05/05/190222/Gong-Gering-Jagat.html

Leave a Reply