Rebut Pasar, Pengusaha Kopi di Buleleng Diminta Standarkan Rasa

SINGARAJA – Para pengusaha kopi di Buleleng diminta memberikan kepastian standar rasa pada konsumen.

Kepastian rasa itu diharapkan menjaga kualitas kopi yang dipasarkan pada publik. Mengingat konsumen memiliki fanatisme tersendiri terhadap kopi-kopi yang diproduksi.

Saat ini di Buleleng setidaknya terdapat delapan merk kopi yang terdaftar. Itu belum termasuk kopi-kopi produksi rumahan yang belum teregistrasi di pemerintah.

Baca juga: Targetkan Zero Emissions, Zero Waste dan Zero Barriers pada 2030

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengatakan, kopi memiliki pasar yang luas. Namun peminatnya sangat spesifik dan fanatik.

Penikmat kopi biasanya mengedepankan kualitas dan cita rasa yang khas. Bupati Agus menyebut tiap pengusaha kopi memiliki rasa yang unik.

Sebab mereka melakukan teknik yang berbeda pula. Baik dari proses penanaman, pemetikan, penjemuran, hingga pengolahan.

Bupati Agus mengingatkan agar para pengusaha benar-benar memerhatikan soal standar rasa. Sehingga setiap merk benar-benar memertahankan cita rasa tunggal yang menjadi ciri khas mereka

“Memastikan cita rasa ini yang tidak mudah. Harus ada jaminan bagaimana kopi yang diproduksi itu rasanya standar. Sehingga konsumen tidak berpaling,” kata Agus.

Menurutnya, kualitas kopi di Buleleng tak kalah saing. Ia menyebut Buleleng memiliki kopi arabika dan kopi robusta dengan cita rasa yang khas.

Bahkan ada pula kopi spesialti yang rasanya begitu spesifik. Sehingga kopi Buleleng harus diperhatikan kualitasnya. Mulai dari hulu di tingkat petani, hingga di hilir pada tingkat pengusaha dan pemasar.

Ceruk pasar kopi yang begitu luas juga menarik perhatian Perusahaan Daerah (PD) Swatantra. Perusahaan berencana ikut turun gelanggang sebagai pengusaha dan pemasar kopi.

Dirut PD Swatantra I Gede Bobi Suryanto mengaku perusahaan siap bekerjasama dengan para petani. Perusahaan disebut sudah siap menyerap hasil panen petani.

Hanya saja perusahaan akan melakukan pemantauan dan pembinaan lebih dulu pada petani, sebelum menjalin kerjasama untuk menyerap hasil panen tersebut.

“Kami ingin meningkatkan produksi dan mendongkrak harga kopi atau nilai tukar kopi. Supaya komoditas yang dihasilkan petani memiliki nilai

yang lebih tinggi dari harga sebelumnya. Tentu harus ada perlakuan khusus. Kami akan koordinasikan hal ini dengan Dinas Pertanian,” kata Bobi.

Menurutnya kunci keberhasilan unit usaha ini akan berada pada sektor hulu. Yakni petani. Pihak petani harus bisa memastikan kualitas biji kopi yang dihasilkan.

Sebisa mungkin kopi yang dipanen dipetik dalam kondisi merah. Selain itu harus terjamin ketersediaan pasokan biji kopi secara konsisten sebagai bahan baku.

“Nanti akan dipilah lagi dalam proses pengolahannya. Mana yang masuk kelas menengah, mana yang masuk ke konsumen kelas atas,” ujar Bobi. 

Sumber Radar Bali

Leave a Reply