KPPAD Bali Sebut Keluarga Korban Butuh Pendampingan Psikis

SINGARAJA– Keluarga korban kasus persetubuhan di Buleleng, masih membutuhkan pendampingan psikis.

Keluarga kembali mengalami trauma, setelah mendapat informasi para terdakwa kasus persetubuhan itu hanya dituntut hukuman 1 tahun penjara dan 4 bulan kerja sosial.

Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Bali pun menaruh perhatian besar terhadap masalah tersebut.

Baca juga: Lima Pemuda Tersangka Pemerkosa Karyawati Alfamart Ditahan

KPPAD berpendapat saat ini yang penting dilakukan ialah memulihkan kondisi psikis keluarga dan korban. Supaya kondisi mereka tak terpuruk kembali, seperti saat awal peristiwa terjadi.

“Supaya bisa kembali pulih kondisinya. Kondisi lingkungan di sekitarnya harus mendukung. Sekolah juga harus mendukung korban ini,” kata Komisioner KPPAD Bali, Ni Luh Gede Yastini saat dihubungi dari Singaraja, Senin (3/5).

Menurut Yastini saat ini keluarga tak bisa berbuat banyak. Sebab dalam hukum acara pidana, pihak yang mewakili kepentingan korban adalah jaksa.

Sementara tuntutan sudah dilayangkan jaksa sejak dua pekan lalu. Sehingga saat ini keluarga hanya bisa berharap pada vonis yang akan dijatuhkan majelis hakim.

“Pihak lawyer dari terdakwa juga tidak mungkin mengajukan banding. Soal wajar atau tidaknya tuntutan jaksa, nanti kita lihat seperti apa keputusan hakim,” ujarnya.

Yastini juga mengingatkan agar terdakwa anak benar-benar diberi pendampingan dan pembinaan, setelah dijatuhi sanksi pidana.

Sehingga para anak yang berkonflik dengan hukum itu, tak mengulangi lagi perbuatannya.

“Anak-anak ini harus ingat, kalau mereka mengulangi kembali perbuatannya, mereka akan dijatuhi hukuman yang lebih berat. Bisa 3-4 kali lebih berat dari saat ini. Apalagi kalau mereka melakukan hal yang sama saat sudah dewasa nanti,” tegasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang anak berusia 14 tahun di Kecamatan Buleleng, sebut saja bernama Mawar, menjadi korban kekerasan seksual. Korban disetubuhi oleh 11 orang pria dalam kurun waktu 3 hari.

Belasan pria itu diduga sudah saling mengenal satu dengan yang lain. Dari 11 orang pria yang melakukan perbuatan bejat itu, sebanyak 7 orang diantaranya masih berstatus anak-anak.

Para terdakwa yang berstatus anak, masing-masing berinisial TU, DA, AT, EA, PR, AA, dan RS, telah menjalani proses persidangan dengan agenda pembacaan tuntutan.

Jaksa Penuntut Umum mengajukan tuntutan hukuman 1 tahun kurungan badan dan 4 tahun kerja sosial pada majelis hakim.

Pihak keluarga korban pun bereaksi, karena menganggap tuntutan hukuman itu terlalu ringan. Keluarga berharap majelis hakim dapat mempertimbangkan vonis yang lebih berat bagi para terdakwa, agar keluarga mendapat keadilan.

Keluarga bahkan sempat mendatangi DPRD Buleleng, berharap anggota dewan dapat ikut menyuarakan permasalahan yang dihadapi keluarga korban. 

Sumber Radar Bali

Leave a Reply