Generasi Bali Jangan Menyerah

Ilustrasi

DENPASAR, BALIPOST.com – Bali berhadapan dengan tantangan serius, tekanan ekonomi membuat semua sektor terpuruk. Di sektor pendidikan, pembelajaran online diyakini membuat kualitas lulusan terdegredasi.

Bahkan, ada kecenderungan pendidikan berbasis kompetnsi teknis terkendala serius. Menghadapi kondisi generasi muda Bali jangan menyerah. Generasi penerus Bali harus kuat, dan melakukan penguatan profesionlisme secara mandiri.

Pandangan ini diutarakan Kepala LLDikti Wilayah VIII, Prof. Nengah Dasi Astawa, S.E., M.Si. dan Kadisdikpora Prov. Bali. Dr. Ketut Ngurah Boy Jayawibawa, M.Si., yang dihubungi secara terpisah, Minggu (2/5) kemarin. Tantangan utama Bali saat ini adalah menyelamatkan pendidikan kaum milenial Bali di tengah makin menurunnya daya beli masyarakat akibat pandemi. Menurut Kepala LLDikti Wilayah VIII, Prof. Nengah Dasi Astawa, S.E., M.Si., pembangunan human capital Bali tak boleh berhenti sekalipun masa pandemi.

Ini artinya perlunya kesadaran bersama memberi kesempatan bagi kalangan milenial Bali melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya ke perguruan tinggi (PT). “Generasi Bali harus didorong dan dimotivasi terus. Generasi milenial Bali jangan sampai menyerah apalagi pasrah menghadapi tekanan pandemi. Generasi muda Bali harus berani menghadapi tantangan,’’ tegasnya.

Bagi dia, ke depan lulusan PT diarahkan menjadi SDM yang berkompetensi dan pemberani. Kompetensi yang dimaksud adalah menjadi SDM siap kerja dengan iptek dan skill-nya di luar sektor pariwisata sambil menunggu sektor ini pulih. Kedua, memiliki kompetensi sebagai job creator menciptakan lapangan kerja baru.

Justru kompetensi ini kata kunci saat pandemi, agar SDM milenial Bali mampu memanfaatkan peluang di sektor informal. Setidaknya SDM milenial Bali sudah memiliki lima keunggulan guna memggarap sektor informal. Tinggal ditambah keberanian untuk memulai usaha baru.

Lima keunggulan tersebut pertama mereka memiliki tempat tinggal sendiri. Kedua,  tak lagi memyewa tempat usaha dengan memanfaatkan ruang depan rumah. Ketiga, SDM Bali sudah mengetahui agenda budaya dan agama sehingga bisa dipakai pasar dadakan. Keempat, kaum milenial Bali memiliki teman dan keluarga atau pasar yang sudah jadi. Kelima, mereka memiliki modal sosial, finansial dan juga modal pendidikan alias kompetensi.

Semua keunggulan itu dia paparkan juga di tiga buku karya terbarunya tahun 2021, yakni; “KAMI Pemimpin Masa Depan”, buku “Asta Mandiri: Delapan Manajemen Sehari-hari Menuju Sukses”, dan buku “Panca Investasi Politisi”. Kata kuncinya, kata Prof. Dasi Astawa adalah berkompetensi dan pemberani. Kompatensi itu akan diam jika tak diwujudkan dengan sikap berani memulai berusaha.

Sementara itu di pendidikan dasar dan menengah (Dikdasmen), Bali fokus pada upaya penyelamatan anak dari ancaman Covid-19 dan tumbuh kembangnya peserta didik. Hal itu sesuai dengan tema Hardiknas yakni ‘’Bergerak bersama mewujudkan merdeka belajar’’.

Konsep ini menurut Kadisdikpora Prov. Bali. Dr. Ketut Ngurah Boy Jayawibawa, M.Si., dari  berbagai problema pendidikan, yang paling urgen dilakukan adalah menyelamatkan kaum milenial Bali, setelah itu memberi kesempatan mereka untuk tumbuh kembangnya potensi diri.

Caranya dengan menerapkan konsep merdeka belajar yang menuntut  siswa dan guru lebih kreatif dan inovatif mencari sumber belajar. ‘’Pandemi Covid-19 mestinya membuat generasi muda Bali lebih jengah menghadapi tantangan kesulitan ekonomi dan model pembelajaran yang beragam. Mental kompetitif dan profesionalisme harus dibangun,’’ ujarnya.

Ia yakin rasa percaya diri dengan kompetensinya menghadapi persaingan di era global akan menjadi kekuatan menghadapi tekanan. Makanya program Kemendikbud-Ristek fokus pada PBM berkualitas dan terjangkau. Berbagai program diluncurkan seperti menghapus UN dengan ujian sekolah dengan berbagai option, BLT dan beasiswa setara bidik misi. (Sueca/balipost)

Sumber https://www.balipost.com/news/2021/05/03/189769/Generasi-Bali-Jangan-Menyerah.html

Leave a Reply