Tak Hanya Pulsa, Sewa Hotel Sampai Uang Tas Ternyata Juga Di Mark Up

SINGARAJA-Aksi berjamaah garong duit Negara dalam perkara korupsi Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Pariwisata untuk program Buleleng Explore dan sosialisasi penerapan protokol kesehatan di Buleleng benar-benar bikin geleng kepala.

Betapa tidak, setelah sebelumnya terungkap me-mark up uang pulsa dari harga Rp 100 ribu menjadi Rp 150 ribu, kini fakta baru kembali terbongkar.

Fakta baru itu, yakni soal dugaan adanya mark up sewa hotel untuk program Buleleng Explore.

Bahkan, Kajari Buleleng I Putu Gede Astawa, Selasa (23/2) menyebut, nilai mark up sewa hotel itu cukup besar.

Nilai mark up mencapai 30 persen dari total nilai sewa.

Selain itu, ada manipulasi pertanggungjawaban dari pengadaan konsumsi senilai Rp 150 juta, serta program pengadaan tas dan souvenir yang dilakukan mark up sebesar 20 persen.

Jaksa mengungkap ada dua modus yang diterapkan oleh para tersangka. Pertama, Surat Pertanggungjawaban (SPJ) yang diserahkan pada rekanan sengaja dilebihkan. Selanjutnya para tersangka meminta kembalian dari para rekanan, dengan alasan kelebihan pembayaran untuk melangsungkan kegiatan di tempat lain.

Modus kedua, para PPTK menyebut kelebihan pembayaran itu sebagai uang titipan. Sehingga kelebihan dana yang telah ditransfer harus dikembalikan pada Dispar Buleleng.

Konon dalam sebuah forum rapat resmi, Kadispar Buleleng non aktif Made Sudama Diana memerintahkan tersangka lain untuk mengumpulkan uang kesejahteraan. Para pejabat dibawah kadis inipun menerjemahkan perintah tersebut untuk mengumpulkan uang dari setiap kegiatan.

Uang yang telah terkumpul kemudian dilaporkan pada kepala dinas.

Selanjutnya kadis memerintahkan agar uang tersebut dibagikan pada pegawai sesuai dengan strata jabatannya. Kadis juga memerintahkan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) membagikan uang ke dinas lain sebagai uang ganti operasional dinas lain yang turut berperan dalam proses pencairan dana hibah PEN Pariwisata pada hotel dan restoran.

Sumber Radar Bali

Leave a Reply