Petani Arak di Karangasem Keluhkan Maraknya Arak Gula, Redana: Tak Berkembang Seperti Harapan

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA – Kini minuman beralkohol (Mikol) di Bali sah untuk diproduksi dan dikembangkan.

Hal itu menyusul terbitnya Perpres Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal.

Meski demikian, petani arak tradisional di Karangasem mengeluh lantaran peraturan yang dikeluarkan oleh gubernur Bali sebelumnya maupun Perpres terbaru tak berimbas ke petani tradisional.

Nyoman Redana, petani arak asal Tri eka Buana, Kecamatan Sidemen, Karangasem, menyebut arak tradisional yang dia buat tidak berkembang sesuai harapannya.

Saat ini arak tradisional kalah bersaing dengan arak fermentasi dari gula di pasaran.

“Arak tak bisa berkembang seperti harapan. Kondisi ini terjadi setelah ada legalitas arak. Dari sinilah banyak fermentasi arak dari gula yang beredar di pasaran. Sehingga mengakibatkan permintaan arak tradisional mengalami penurunan,” kata I Nyoman Redana dihubungi Selasa 23 Februari 2021 siang.

Baca juga: Koster Sebut Popularitas Arak Bali Semakin Meningkat, Bakal Bersaing dengan Soju atau Vodka

Dia merinci, arak gula lebih murah dibanding minuman arak tradisional yang diproduksi petani tradisional di Karangasem.

Harga arak gula per liternya hanya Rp 10-15 ribu, sedangkan arak tradisional dari kelapa per liter mencapai Rp 25-30 ribu lebih.

“Orang jarang mau membeli arak tradisional karena harganya lebih mahal dibanding arak gula. Makanya orang beralih membeli arak gula. Aplagi sekarang pandemi, daya beli mengalami penurunaan,” ungkap Regen, sapaan akrab I Nyoman Redana.

Baca juga: Jokowi Terbitkan Perpres Mikol, Tapi Penjual Arak di Bali Bingung Cari Izin, Ditawari Izin Restoran

Ia berharap agar pemerintah hanya melegalkan arak tradisional dari kelapa, untal, maupun jaka. 

Sumber: Tribun Bali

Leave a Reply