Pembuat, Perantara dan Pengguna Suket Rapid Test Antigen Palsu Dibui

AMLAPURA- Tiga tersangka pembuat, perantara dan pengguna surat keterangan (Suket) Rapid test Antigen palsu akhirnya dibui.

Ketiga tersangka itu, yakni masing-masing, SH (pembuat), NW (perantara), dan B (pengguna).

Seperti terungkap saat jumpa pers di Mapolres Karangasem, Sabtu (20/2).

 

Kapolres Karangasem, AKBP Ni Nyoman Suartini didampingi Kasat Reskrim Iptu Aris Setyanto mengatakan aksi tersangka utama yakni SH dalam memalsukan surat keterangan rapid tes antigen tersebut sudah dilakukan lebih dari lima kali.

“Dari hasil pengembangan, SH mengaku sudah melakukan aksi ini lebih dari lima kali,” ujarnya.

Disinggung apakah aksi pemalsuan surat keterangan ini dilakukan sebagai ajang bisnis, Suartini mengungkapkan hal tersebut masih didalami.

Termasuk siapa saja yang pernah menggunakan jasa SH ini. “Kami sedang dalami. Kemana saja dan kepada siapa saja surat keterangan rapid palsu ini digunakan,” tegasnya.

Suartini menambahkan, modus yang digunakan tersangka dalam membuat surat keterangan rapid test antigen palsu ini, yakni dengan menggunakan scan dari hasil surat keterangan rapid antigen.

Sayangnya, acuan pelaku dalam melakukan aksi pemalsuan itu juga menggunakan surat keterangan rapid antigen palsu.

“Akhirnya semua salah. Itu yang membuat kecurigaan petugas di Pelabuhan Padangbai hingga kasus ini terungkap. Tempat kliniknya di Kimia Farma Denpasar, tapi saat ditanya pemakainya yakni B, katanya melakukan tes di Karangasem. Dari pengakuan B, ia membayar kepada SH senilai Rp50 ribu,” tambah Suartini.

Sementara itu, tersangka B selaku pengguna Suket palsu mengaku terpaksa menempuh jalur tersebut karena tidak memiliki cukup biaya untuk melakukan rapid tes antigen yang tarifnya cukup mahal.

Saat itu di tengah kekalutannya untuk pulang ke Lombok Timur, NTB menjenguk istri yang sedang sakit, akhirnya ia meminta tolong kepada teman perempuannya bernisial NW.

“Saya terpaksa karena tidak punya uang untuk melakukan rapid tes antigen. Akhirnya saya minta tolong kepada teman saya NW ini untuk membuatkan surat keterangan palsu,” akunya.

Dari pengakuan NW, akhirnya dia bersedia membantu B untuk bisa mendapatkan surat keterangan rapid antigen palsu melalui jasa SH.

Perempuan asal Jember yang tinggal di Banjar Dinas Kecicang ini juga mengakui bahwa ia pernah melakukan hal yang sama saat akan pulang menuju Jember beberapa waktu lalu.

“Dulu juga saya minta tolong SH ini agar membuatkan surat keterangan palsu. Dalam kasus ini niat saya hanya membantu. Tidak lebih agar B bisa pulang. Karena kasihan istrinya sedang sakit. Saya menyesal kasus ini bisa sampai sebesar ini,” ucap NW.

Namun pengakuan SH, aksinya ini baru dilakukan dua kali. Yang pertama untuk NW dan kedua untuk B.

Dalam proses edit dan scan itu ia belajar melalui youtube. “Saya niatnya cuma membantu. Baru dua kali pertama untuk NW dan kedua untuk B. Saya diberi upah masing-masing Rp50 ribu,” kata SH.

Atas perbuatannya itu, ketiganya dijerat pasal berlapis. Pasal 263 ayat 2, pasal 268 ayat 2, pasal 93 jo pasal 9 ayat 1 UU tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan, dan pasal 14 UU nomor 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit menular. 

Seperti yang diberitakan sebelumnya, terungkapnya kasus pemalsuan suket rapid test antigen palsu, berawal ketika B akan melakukan perjalanan laut menuju Lombok pada Selasa (16/2) lalu.

Petugas kesehatan pelabuhan yang melakukan pengecekan terhadap surat keterangan rapid antigen yang dibawa B ini ditemukan beberapa kejanggalan.

Mulai dari klinik yang mengeluarkan Kimia Farma Denpasar, namun saat ditanya petugas B mengaku melakukan pengetesan rapid antigen di salah satu klinik di Amlapura Karangasem.

Akhirnya petugas jaga langsung melaporkan kejadian tersebut kepada Polsek Kawasan Pelabuhan Padangbai yang selanjutnya dilimpahkan kepada Sat Reskrim Polres Karangasem untuk ditangani.

Dari kejadian itu, pihak kepolisian mengamankan dua tersangka tambahan selain B. Yakni NW dan pelaku utama SH. 

Sumber Radar Bali

Leave a Reply