Hakim Perberat Hukuman Oknum Guru Silat Penyodomi Dua Siswa SD

DENPASAR– Hakim Heriyanti memberikan bonus hukuman untuk terdakwa Deni Novrian, 27. Bonusnya yaitu menjatuhkan hukuman setahun lebih tinggi dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU).

Saat sidang pembacaan putusan, majelis hakim menilai, perbuatan guru pencak silat di salah satu SD Negeri di Denpasar yang menyodomi dua anak di bawah umur itu sangat bejat.

Perbuatan terdakwa menyebabkan trauma berat dan merusak masa depan korbannya.

Hakim Heriyanti menjatuhkan pidana penjara selama 12 tahun.

“Saudara terdakwa dituntut 11 tahun, saya tambahi satu tahun. Jadi saudara dihukum 12 tahun penjara,” tandas hakim Heriyanti, Kamis (14/1).

“Mudah-mudahan tambahan hukuman ini menjadi pelajaran dan membuat saudara jera,” cetus Heriyanti.

Tak hanya pidana badan, hakim juga menjatuhkan pidana denda sebesar Rp 1 miliar. “Jika tidak dibayar diganti pidana penjara selama setahun,” imbuh Heriyanti.

Perbuatan terdakwa melanggar Pasal 82 ayat (2) UU Perlindungan Anak juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP sebagaimana dakwaan primer.

Mendengar putusan hakim, terdakwa yang juga seorang sopir itu langsung lemas. Dari awal sidang terdakwa selalu menunduk. Heriyanti pun mempersilakan terdakwa banding jika keberatan dengan putusan.

Setelah konsultasi dengan penasihat hukumnya, terdakwa menerima putusan hakim. “Terima, Yang Mulia,” ucapnya lirih.

Aji Silaban, pengacara yang mendampingi terdakwa menyatakan menerima.

Untuk kasus pencabulan, hakim Heriyanti memang dikenal garang. Dalam perkara lain, ia juga menjatuhkan pidana penjara di atas tuntutan JPU.

Dalam kasus ini, Heriyanti menilai terdakwa terbukti melakukan pencabulan dengan pemberatan. Deni sempat mengancam korbannya jika buka mulut. Ancaman yang dilontarkan yaitu bakal menghajar korban hingga menyantet para korbannya.

Deni secara berulang-ulang menyodomi korbannya hingga mengalami trauma berat.

Aksi bejat terdakwa dilakukan di sebuah kamar kos di Jalan Maruti. Korbannya adalah murid silatnya yang masih berusia 9 tahun (kelas III SD) dan 13 tahun (kelas II SMP).

Pencabulan ini dilakukan terdakwa Deni sejak Mei hingga Juli lalu.

Modusnya, Deni mengajak muridnya ini main ke kosnya lalu dicabuli.

Untuk memuluskan aksinya, Deni mengancam korbannya akan dipukul dan disantet jika buka mulut. Kedua korban pun ketakutan dan memilih bungkam.

Hingga akhirnya, salah satu korban bercerita tentang aksi cabul pelatih silat ini ke salah seorang temannya.

Pengakuan korban inipun disampaikan ke orang tuanya yang langsung memilih melaporkan perkara ini ke Polresta Denpasar pada Juli 2020 lalu.

Sumber Radar Bali

Leave a Reply