Perajin Arak Tak Berani Campur Air karena Takut Ida Betara Arak Geni

Banjar Merita dikenal sebagai penghasil arak terbaik di Bali. Minuman destilasi dari tuak ini tidak hanya sekadar penghasilan sampingan, melainkan sudah menjadi denyut perekonomian masyarakat Merita yang berlangsung sejak lama. 

ZULFIKA RAHMAN, Karangasem

____

BARISAN pohon siwalan menjulang tinggi terlihat saat memasuki banjar Dinas Merita, Desa Labasari. Sangat mudah untuk menjangkau wilayah Merita, yang terletak di Kecamatan Abang. 

Letaknya hanya berjarak kurang lebih 15 kilometer dari Kota Amlapura. Setiap pengunjung akan sangat mudah menemukan pembuat arak yang dikenal memiliki kualitas nomor wahid di Bali. Yakni arak api. 

Hampir setiap KK, di banjar Merita ini merupakan pembuat arak yang masih menggunakan cara tradisional. Karena hampir 70 persen warga di sana mengandalkan industri arak sebagai penghasilan utama kehidupan. 

Salah satunya Nyoman Mangku Merta, 41. Warga banjar Merita ini juga merupakan pembuat arak Bali. Lazimnya, ketika bertandang ke rumah orang, ada suguhan kopi maupun teh. Namun suguhan pertama yang diberikan di sini justru arak Bali. 

Suasana hujan yang kala itu cukup deras menjadi pembuka obrolan dengan Merta. Sembari menuangkan arak dari botol air kemasan, ia pun menceritakan ketenaran arak Merita yang memang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya di Seantero Bali. 

“Ini arak nomor dua. Cara membedakan dengan kualitas nomor satu itu dari kejernihan. Kalau arak nomor satu lebih jernih, seperti air mineral kemasan,” ucapnya sembari mempersilahkan untuk mencoba arak Merita yang disuguhkan. 

Untuk menghasilkan arak dengan kandungan alkohol yang lebih tinggi, katanya, akan membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding yang alkoholnya lebih rendah.

“Agar jadi arak kelas satu, apinya harus lebih kecil. Sehingga waktunya lebih lama,” jelasnya.

Maka, tak heran, harga arak kelas satu lebih mahal dari kelas 2. Begitulah: ada rupa, ada harga.

Mangku Merta dan sang kakak merupakan penerus keluarga berkecimpung di usaha pembuatan arak. Sejak pertengahan Desember hingga memasuki bulan ketiga awal tahun adalah waktu paceklik untuk menghasilkan arak. Karena di musim itu, merupakan musim hujan. Bahan baku dari tuak siwalan atau ental jarang tersedia karena petani tuak tidak berani melakukan penyadapan. Selain pohonnya licin, inilah waktunya pohon itu bertunas.

“Kalau musim hujan, bahan bakunya sulit. Tidak ada yang berani naik ke atas menyadap tuak. Memperhitungkan keselamatan. Jadi arak-arak yang tersedia saat ini stok yang sudah diproduksi sebelumnya,” kata Merta.

Dia pun menunjukkan tempat penyulingan arak yang terpisah dari rumah utama. Ia bersama kakak perempuannya lah yang setiap hari memproduksi arak rumahan. 

Dengan bahan baku tuak yang dipanaskan dengan kompor, tuak itu nantinya akan menghasilkan uap yang merupakan destilasi menjadi arak. Untuk arak nomor dua, dalam dua jam proses penyuligan bisa menghasilkan tiga botol kemasan air mineral 600 mili arak yang dihasilkan. Namun untuk mencari arak dengan kualitas nomor 1, dalam dua jam hanya bisa menghasilkan satu botol saja. 

“Untuk memanaskan tuak itu butuh waktu setengah jam. Nanti setelah mendidih, api akan dikecilkan. Kalau mau mencari arak nomor satu apinya semakin kecil, tetesan uap yang dihasilkan juga semakin lambat. Arak nomor satu ini kalau dibakar menyalak. Kalau mau arak nomor dua tinggal di besarin sedikit apinya. Kalau arak Merita semakin disimpan jangka waktu yang lama semakin bagus. Kalau arak nomor satu bisa bertahan dalam jangka waktu lebih dari setahun,” jelas Merta.

Pemasaran arak sendiri kata Mangku Merta, sudah ada pengepul yang mengambil. Tidak hanya pengepul dari seputaran Bali, namun juga dari luar Bali yakni wilayah Pulau Jawa hingga luar pulau Jawa. Masing-masing industri rumahan arak sendiri telah memiliki pengepul yang membeli arak mereka. Untuk satu kalor berisi 50 botol air kemasan ukuran 600 mili, ia menjual seharga Rp700 ribu. Namun dia menyesalkan, masih ada saja permainan harga yang diatur oleh para pengepul. Misalnya ketika produksi arak cukup banyak, harga arak justru dihargai murah. Para pembuat arak pun tidak bisa berbuat banyak. 

“Ketika araknya banyak maka harganya diturunkan. Nanti oleh pengepul dibuat stok. Ketika musim hujan saat produksi arak tidak ada, arak tersebut dijual dengan harga tinggi. Kami berharap kepada pemerintah dengan adanya aturan Gubernur yang sudah melegalkan arak Bali, ada tata kelola pemasaran arak di Bali lebih baik lagi. Seperti apa bentuknya pemerintah yang penting bisa mengangkat perekonomian masyarakat pembuat arak di Merita ini. Misalnya dalam bentuk koperasi atau wadah yang bisa memberi efek peningkatan kesejahteraan para pembuat arak di Merita dan daerah lainnya,” imbuhnya.

Pihaknya juga menyesalkan, oknum-oknum di luar yang menjatuhkan reputasi arak Merita. Beredar isu bahwa arak Merita tidak lagi memiliki kualitas bagus. Ada isu yang mengatakan bahwa pembuat arak di Merita kini mencampur dengan air. Padahal kata Mangku Merta hal itu tidak benar sama sekali. Karena bagi masyarakat Merita sangat menjunjung kualitas arak yang erat kaitanya dengan kepercayaan masyarakat yakni Ida Betara Arak Geni atau Ida Betara Arak Api. 

Ketika masyarakat Merita membuat arak dengan cara yang salah atau menipu, katanya,  masyarakat setempat percaya akan langsung terjadi musibah kepada pembuat arak tersebut. Dan sudah banyak dibuktikan. 

“Dulu ada salah satu oknum di sini (Merita), membuat arak  dengan campuran air atau metanol itu langsung hancur. Ada saja musibah menimpa. Misalnya araknya disita polisi, atau musibah lainnya. Arak Merita pun tidak boleh dipandang rendah. Misalnya ketika orang luar datang ke Merita dan saat mencicipi arak ngedumel bahwa arak Merita keras atau lainnya seketika akan muntah atau mabuk teler. Karena memang tidak boleh mengecap arak Merita dengan nada mencibir, kami percaya arak Merita ini sangat erat dengan keberadaan Ida Betara Arak Geni akan marah,” tukasnya.

Sumber Radar Bali

Leave a Reply