Malam Siwaratri, Malam yang Paling Gelap, Jagra Dilakukan 36 Jam

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR– Hari ini, Selasa (12/1/2021), umat Hindu merayakan hari raya Siwaratri.

Hari ini merupakan payogan Sang Hyang Siwa dan dipercaya saat malam Siwaratri sebagai malam yang paling gelap.

Dalam melaksanakan Siwaratri ini, umat akan melaksanakan brata mulai dari puasa, jagra, maupun ada yang melaksanakan mona brata.

Pelaksanaan Siwaratri ini juga berkaitan dengan kisah seorang pemburu bernama Lubdaka dalam kakawin Siwaratri Kalpa karya Mpu Tan Akung.

Baca juga: Upacara Pitra Yadnya Siwa Sumedang, Ngaben Sederhana Umat Hindu

Baca juga: Tumpek Wayang Bertepatan dengan Kajeng Kliwon, Apa Maknanya?

Baca juga: Tumpek Wayang, Lahir Jumat Wajib Harus Lakukan Sapuh Leger

Menurut Wakil Ketua PHDI Bali, Pinandita Ketut Pasek Swastika, hari raya Siwaratri yang dilaksanakan saat Sasih Kepitu, pada hakikatnya adalah Namasmaranam pada Nama Siwa.

Artinya selalu mengingat dan memuja Siwa dalam upaya melenyapkan segala kegelapan batin.

“Keutamaan Siwaratri diuraikan dalam kitab-kitab Purana yaitu Siwa Purana, Skanda Purana, Garuda Purana dan Padma Purana,” paparnya.

Brata Siwaratri yang hendaknya dilaksanakan menurut berbagai Purana tersebut yaitu Upawasa yang biasanya dilaksanakan mulai matahari terbit.

Menurut Agni Purana artinya “kembali suci” yang dimaksud adalah dilatihnya indria melepaskan kenikmatan makanan atau dengan kata lain yaitu berpantang terhadap makanan, melatih untuk tidak terikat dengan kelezatan makanan sebagai bentuk melatih pengendalian indria-indria duniawi.

Kedua yaitu Mona Brata yang artinya berdiam diri tidak bicara.

“Mona bertujuan melatih diri dalam hal bicara agar terbiasa bicara dengan penuh pengendalian sehingga tidak keluar ucapan-ucapan yang tidak patut diucapkan. Mona adalah melatih pembicaraan pada diri sendiri dengan merenungkan kesucian. Mona Brata biasa dilaksanakan secara total mulai pagi hari hingga sore hari,” jelasnya.

Brata ketiga yakni Jagra atau sadar, dimana selalu menjaga kesadaran buddhi.

“Menjaga kesadaran agar selalu mengarah pada Sang Pencipta. Dalam upaya menjaga kesadaran inilah mereka yang totalitas melaksanakan Brata Mahasiwaratri biasanya pada malam harinya melakukan Japa Seribu Nama Siwa atau men-Japa-kan nama-nama Siwa yang jumlahnya seribu,” katanya.

Jagra ini dilaksanakan selama 36 jam. (*).

Sumber: Tribun Bali

Leave a Reply