Tebar Ikan Nila, Pengembangan Mina Padi di Buleleng Kian Masif

SINGARAJA – Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Buleleng kian masif mengembangkan perikanan di kawasan darat.

Bukan dengan membuat kolam-kolam baru, atau memperluas lahan tambak. Pemerintah justru memanfaatkan lahan persawahan warga untuk budi daya ikan.

Seperti yang dilakukan di Desa Panji. Lahan pertanian di Subak Mandul, Desa Panji, digunakan sebagai areal budi daya ikan nila.

Tak kurang dari 8.000 ekor ikan nila ditebar di lahan tersebut. Proses budidaya di areal persawahan itu disebut sebagai mina padi.

Subak ini sengaja dipilih, karena sumber air cukup melimpah. Para petani juga telah menerapkan sistem pertanian organik. Sehingga lebih ramah terhadap ikan yang ditebar.

Setidaknya dalam kurun waktu tiga bulan kedepan, petani sudah bisa memanen ikan-ikan tersebut. Nyaris bersamaan dengan durasi panen di lahan tersebut.

Kepala DKPP Buleleng Gede Melandrat mengatakan, budi daya ikan dengan skema mina padi sebenarnya cukup menguntungkan petani.

Sebab petani tak perlu menyediakan pakan pada ikan-ikan tersebut. Sebaliknya ikan nila akan memakan organisme yang selama ini menjadi hama padi. Terutama keong.

Selain itu kotoran yang dihasilkan ikan nila, dapat menjadi pupuk organik. Sehingga biaya yang dikeluarkan petani relatif sedikit.

“Nanti kalau sudah panen, ikannya bisa dijual. Jadi ada nilai tambah dari sebidang lahan yang dikelola petani. Selama ini kan hanya padi saja. Kalau dengan mina padi, ada ikan juga yang bisa jadi tambahan pendapatan petani,” kata Melandrat.

Hanya saja proses mina padi ini memiliki tantangan tersendiri. Yakni serangan burung akan lebih banyak. Solusinya, petani harus memasang jaring di atas tanaman padi. Sehingga tak terlalu terganggu dengan hama burung.

Sementara itu Perbekel Panji Made Mangku Ariawan menyebut, upaya mina padi itu sangat menjanjikan bagi petani. Sebab dari 8.000 benih nila yang ditebar, potensi panen bisa mencapai 1 ton.

Dengan jumlah panen sebanyak itu, maka pendapatan petani dalam satu musim tanam dipastikan bisa meningkat tajam.

“Kalau mau dijual, kami sih menganjurkan agar dijual di sekitar desa saja. Apalagi ada banyak usaha restoran kan di Panji ini.

Jadi, kita bisa buat produk olahan yang memang otentik. Sehingga bisa jadi salah satu daya tarik kunjungan juga,” katanya. 

Sumber Radar Bali

Leave a Reply