Kejar Gelar Doktor, Bikin Buku Manfaat Jerami Padi Hasil Disertasi

Wartawan senior di Bali bernama I Nengah Muliarta ini memang mulititalented. Di sela padatnya aktivitas sebagai jurnalis dan dosen,

jebolan FMIPA Unud ini rajin menulis buku. Karya terbarunya adalah buku berjudul “Berkah Limbah Jerami Padi” setebal 244 halaman. Seperti apa?

NI KADEK NOVI FEBRIANI, Denpasar

MANFAAT jerami padi sebenarnya diteliti Muliarta sejak lama. Terpatnya sejak 2016 silam, saat menulis disertasi untuk kebutuhan akademis.

Proses penulisannya cukup panjang. Bukunya pun baru diterbitkan setelah dirinya dinyatakan lulus dalam sidang terbuka untuk meraih gelar doctor.

Layaknya jurnalis, buku ini jauh dari kesan tulisan bertele-tele, justru dikemas dengan gaya bahasa popular agar mudah dipahami masyarakat awam.

Kepada Jawa Pos Radar Bali, Muliarta mengatakan alasan mengangkat jerami padi sebagai bahan penelitian karena  jerami kerap

dipandang sebagai sisa tanaman yang mengganggu proses pengolahan tanah pada sistem usaha tani yang intensif.

Dampaknya petani cenderung membakar jerami padi setelah proses panen. Menurutnya, kesadaran dan pemahaman petani tentang pentingnya peran bahan organik dalam tanah sawah masih rendah.

Ditandai oleh kurangnya perhatian petani dalam pengembalian limbah panen ke dalam tanah. Jerami padi sering dibakar, atau dibiarkan diambil orang sebagai bahan bakar atau untuk keperluan industri.

Padahal, pembakaran jerami akan berdampak pada matinya  mikroba yang berguna dalam proses biologis, seperti perombak bahan organik, pengikat nitrogen, dan mikroba yang memiliki fungsi biologis lain. 

Jerami padi merupakan potensi bahan baku lokal yang dapat diperoleh dengan mudah. Pemanfaatan jerami dalam kaitannya untuk menyediakan hara dan bahan organik tanah dapat dilakukan dengan mengolahnya menjadi kompos.

Proses pengomposan jerami padi dapat dilakukan dengan cara aerob (dengan O2) maupun anaerob (tanpa O2).

Pengomposan dengan metode aerob paling banyak digunakan, karena mudah dan murah untuk dilakukan, serta tidak membutuhkan kontrol proses yang terlalu sulit.

“Kompos merupakan sumber bahan organik yang dihasilkan dari pemanfaatan limbah melalui proses biokonversi secara terkendali.

Perbaikan kesuburan tanah untuk budidaya padi secara berkelanjutan sangat tergantung pada upaya pengelolaan jerami padi dan pupuk hayati.

Secara umum kompos meningkatkan kesuburan tanah karena kompos berperan penting dalam meningkatkan sifat fisik, kimia dan sifat biologis tanah.

Kompos dapat digunakan sebagai alternatif pengganti pupuk anorganik untuk meningkatkan produksi tanaman.

“Kompos jerami padi dan pemanfaatannya pada tanah pertanian berfungsi untuk menjaga kandungan bahan organik tanah dan sifat mikrobiologi tanah,” terang mantan Komisioner KPID Bali ini. 

Maka dari itu, jerami padi sudah saatnya dipandang sebagai sebuah sumber daya pertanian yang harus mulai dimanfaatkan.

Bukan lagi dipandang sebagai limbah (sisa hasil usaha yang tidak berguna), yang kemudian harus dibuang karena tidak berguna.

Secara konvensional jerami padi juga umum digunakan petani sebagai mulsa saat menanam holtikultura.

Dalam berbagai penelitian telah diungkapkan bahwa penggunaan jerami padi sebagai mulsa terbukti cukup efektif dalam menekan pertumbuhan gulma.

Jerami padi selama ini juga umum digunakan sebagai pakan ternak, namun bukan sebagai pakan utama.

Jerami padi hanya digunakan sebagai pakan selingan bagi ternak, karena hanya mampu dikonsumsi ternak sebanyak 1,3% dari bobot badannya.

Jerami padi sampai saat ini masih dipandang sebagai limbah atau sisa dari suatu kegiatan usaha yang tidak memiliki nilai ekonomi.

Kesan tersebut menyebabkan keberadaan jerami padi sebagai sebuah musibah yang dapat menimbulkan permasalahan.

Cara singkat dalam mengatasi permasalahan jerami yang dilakukan selama ini adalah dengan cara membakar.

Membakar jerami padi seakan menjadi solusi yang paling tepat yang dilakukan petani. Padahal pembakaran jerami padi

dapat menimbulkan emisi gas buang yang dapat menyebabkan pencemaran udara, gangguan kesehatan dan berkontribusi pada pemanasan global.

Walaupun pada sisi lain terdapat juga petani yang melakukan pembakaran dengan alasan mengatasi hama dan penyakit.

Termasuk pembakaran dilakukan karena pengetahuan yang didapatkan petani secara turun-temurun bahwa pengembalian jerami padi ke tanah dapat dilakukan dengan cara melakukan pembakaran.

Muliarta mengungkapkan, ternyata jerami padi mengandung unsur hara yang berfungsi bagi upaya menjaga kesuburan tanah.

Pengomposan menjadi salah satu cara untuk mengolah jerami padi dan mengembalikan ke tanah. Melalui upaya pengomposan maka jerami padi tidak lagi dipandang sebagai musibah, tetapi justru sebagai berkah.

Jerami padi menjadi berkah karena jerami padi merupakan sumber daya bahan pembuatan pupuk. Sayangnya sangat jarang upaya pengomposan jerami padi dilakukan.

Alasan utamanya yaitu mayoritas petani tidak mengetahui metode pengomposan jerami padi. Padahal jika jerami padi diolah menjadi pupuk

maka selain dapat menjaga kesuburan tanah juga dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan mengurangi biaya pembelian pupuk.

“Buku ini merupakan hasil penelitian penulis yang ditulis ulang dalam susunan penulisan popular yang tidak hanya memaparkan konsep pengelolaan jerami padi dan pengomposan jerami padi,

tetapi juga keuntungan dari pemanfaatan jerami padi. Buku ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengelolaan jerami padi,

termasuk dalam membantu petani melakukan pengomposan jerami padi secara praktis, efektif dan efisien.

Buku ini juga diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemegang kebijakan dalam melakukan pengelolaan dan pengolahan jerami padi,” jelasnya. 

Muliarta berharap jerami padi tidak lagi dipandang sebagai bahan buang yang tidak berguna. Buku ini juga diharapkan dapat menjadi pedoman dalam membangun pertanian berkelanjutan di Indonesia. (*)

Sumber Radar Bali

Leave a Reply