Waspada! Cuaca Basah dan Lembap Bisa Memicu Munculnya Penyakit Tanaman

NEGARA-Turunnya hujan saat musim kemarau bisa berdampak kurang baik bagi pertanian.

Selain menyebabkan kondisi panas dan lembap, akibat curah hujan yang tak teratur saat musim kemarau juga berpotensi memicu sejumlah penyakit tanaman.

Dampak buruknya, produktivitas hasil pertanian dan perkebunan akan menurun karena terserang penyakit.

Seperti diungkap salah satu petani kakao asal Kecamatan Pekutatan, I Putu Mawa saat mengikuti sekolah lapangan iklim yang diselenggarakan Stasiun Klimatologi BMKG Jembrana, Selasa (17/11).

Menurutnya, kondisi iklim dua tahun terakhir ini mempengaruhi kapasitas produksi kakao.

“Kondisi cuaca iklim ini bisa menurunkan jumlah produksi kakao,” ujarnya.

Menurutnya, panas terlalu tinggi seperti tahun lalu tidak terlalu bagus untuk pertumbuhan buah kakao.

Sedangkan tahun lalu, kemarau terjadi hingga setahun, sehingga menyebabkan produktivitas kakao menurun.

Pada saat curah hujan terlalu tinggi seperti yang terjadi saat musim kemarau ini justru memicu tumbuhnya penyakit seperti jamur dan buah busuk.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jembrana Rakhmat Prasetia mengatakan, hingga akhir tahun 2020 dan awal tahun 2021, kondisi cuaca basah dan lembap.

Meski satu sisi curah hujan tinggi bagus untuk pertanian, tetapi karena kelembapan juga tinggi juga berisiko dengan meningkatnya penyakit tanaman.

Kondisi itu, ketika petani menanam apa adanya tanpa perencanaan yang matang, maka pertumbuhan hama penyakit meningkat yang mempengaruhi produktivitas.

Misalnya untuk tanaman kakao, kondisi basah dan lembap menyebabkan penyakit meningkat.

“Kondisi basah dan lembap ini memicu pertumbuhan penyakit pertanian meningkat. Jika petani mengetahui kondisi ini, maka bisa dicarikan solusi dengan menari bibit yang tepat sesuai dengan cuaca,” ungkapnya.

Menurutnya, tahun ini kemarau banyak hujan berbanding terbalik dengan tahun lalu yang kering hingga bulan Desember. Karena itu petani perlu dikenalkan produk dari BMKG mengenai informasi iklim dan cuaca, sehingga ke depan hanya dengan telepon ke BMKG mengenai cuaca sudah bisa merencanakan pertaniannya.

Rahmat menambahkan, selama ini petani dalam menjalankan pertaniannya hanya berdasarkan kebiasaan. Sehingga perlu didukung dengan teknologi yang bisa memberikan informasi cuaca iklim.

Ketika petani sudah mengetahui prakiraan iklim, dari instansi lain yang terkait bisa memberikan dukungan informasi mengenai bibit yang cocok untuk ditanam sesuai dengan musim yang sudah diperkirakan.

“Sehingga pertaniannya lebih terencana dan tidak merugi karena gagal panen,” tukasnya.

Sumber Radar Bali

Leave a Reply