Larangan Saat Cuntaka, Ini Sesana atau Etika Membuat Upakara Hindu Bali

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusnarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Ada aturan dan diajarkan turun temurun, membuat upakara Hindu Bali ada etika atau sesananya.

 Banten dan upakara menjadi keseharian umat Hindu di Bali, secara turun temurun.

Menurut penglingsir Puri Pegambangan Batubulan, Gianyar, Bali, Agung Astawa, di dalam kehidupan sehari-hari pun masyarakat Bali membuat upakara.

Semisal banten saiban, canang sari, dan segehan.

“Kalau di rumah kami, memang setiap hari menghaturkan saiban, canang sari, dan segehan,” jelasnya kepada Tribun Bali, Kamis (13/11/2020).

Baca juga: Pura Campuhan Windhu Segara, Satu-satunya Pura di Bali yang Tidak Haturkan Daging sebagai Upakara

Hal itu, sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala karunianya.

Serta sebagai bentuk dalam menjaga keselarasan alam semesta dengan harapan terjadinya keseimbangan dan saling menjaga. 

Banten pun dibuat dengan aturan yang diajarkan leluhur turun temurun, semisal menggunakan kamen dan ditanding pada balai terpisah khusus balai banten.

Hal ini sesuai dengan buku ‘Himpunan Tetandingan Upakara Yadnya’ ditulis I.B. Putu Sudarsana dan Ni Wayan Ripig, diterbitkan Yayasan Dharma Acarya.

Sumber: Tribun Bali

Leave a Reply