Terancam 20 Tahun, Terdakwa Pemilik Sabu 100 gram Ngaku Dijebak

DENPASAR-Seorang terdakwa kasus narkoba, Syahlan Habibi, 35, merasa dijebak atas kepemilikan sabu-sabu seberat 100 gram netto.

Syahlan ngotot menyatakan barang tersebut bukan barangnya.

Pria asal Pamekasan, Madura, Jawa Timur, itu mengaku belum pernah menempati rumah tempat ditemukannya barang bukti.

Syahlan pun menyatakan keterangan anggota polisi di persidangan tidak benar. Hal itu diungkapkan Syahlan saat menjalani sidang perdana secara daring di PN Denpasar. 

“Saudara terdakwa, atas keterangan saksi (polisi), apakah ada yang tidak benar menurut saudara?” tanya Hakim Angeliky.

Terdakwa tidak ragu menjawab pertanyaan hakim. “Itu barang (sabu) bukan punya saya, Bu. Di dalam rumah itu juga belum ada barang, karena belum saya tinggali,” sahut terdakwa. 

Hakim Angeliky kemudian mengingatkan terdakwa agar tidak berbohong saat memberi keterangan dalam persidangan.

“Benar itu bukan barang (sabu)milik saudara?” tanya hakim meminta penegasan terdawka. “Benar, Bu,” jawab terdakwa.

Hakim lantas mengingatkan terdakwa agar tidak berbohong. “Saudara jangan berbohong, kalau berbohong saudara akan mendapat hukuman yang lebih berat,” tandas hakim. “Siap, Bu,” sahut terdakwa. 

Yang menarik, hakim Angeliky juga sempat ragu dengan keterangan saksi polisi yang menyebutkan jumlah barang bukti sabu dengan berat kotor 100, 10 gram dan beratnya bersihnya 100 gram. “Tadi, katanya berat brutto 100, 10 gram, ini berat nettonya 100 gram. Yang 10 gram itu apa?” cecar hakim Angeliky.

Dari balik layar saksi polisi menyebut yang 10 gram adalah berat plastik. “Plastik klip (suara samar-sama),” terang saksi.

Hakim tidak puas dengan jawaban saksi polisi. “Masak ada plastik klip beratnya 10 gram? Tapi, ya sudah, dosanya ditanggung masing-masing,” cetus hakim yang dikenal galak itu.

Sidang akan kembali dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi dari JPU pada Selasa (17/11) mendatang. 

Sementara itu, JPU I Gede Dewa Anom Rai menjelaskan, terdakwa ditangkap polisi pada Jumat, 31 Juli 2020 pukul 19.30 WITA di rumah terdakwa di Jalan Pesona Dalung, Gang V, Nomor 16, Lingkungan Bumi Kerta, Desa Kerobokan Kaja, Kuta Utara, Badung. 

Rumah tersebut baru disewa terdakwa sejak 28 Juli 2020. Sejak saat itu terdakwa sering datang ke rumah tersebut untuk bersih-bersih.

Ketika terdakwa ada di dalam rumah yang disewanya ditangkap petugas. Saat dilakukan penggeledahan di dalam pintu kamar mandi ditemukan barang berupa dua tas warna hitam berlapis.

Didalamnya berisi satu plastik klip berisi sabu dengan berat 100,10 gram atau 100 gram netto, 1 bundel plastik klip bening, 3 lembar setiker dengan logo gambar kupu-kupu dan huruf G, serta dua potongan pipet. 

Sejak terdakwa menyewa rumah tersebut tidak ada orang lain yang masuk ke rumah itu selain terdakwa sendiri.

Saat dilakukan penggeledahan di rumah Suarsini ditemukan barang bukti berupa ATM BCA atas nama terdakwa, dua buah isolasi, dan satu potongan pipa kaca yang semuanya milik terdakwa. 

Menurut JPU Anom, terdakwa sudah menjadi sebagai pengedar sabu sejak Mei 2020.

Dia menjadi perpanjangan tangan seorang bandar bernama Andik yang saat ini masih mendekam di Lapas Kerobokan.

Sejak Saat itu terdakwa sudah empat kali mengambil paket narkotika kemudian ditempel lagi sesuai pesanan Andik, dan baru menerima upah sebanyak 3 kali dengan rincian masing-masing pertama Rp 1 juta, kedua Rp 500 ribu dan ketiga Rp 500 ribu. 

JPU menjerat terdakwa dengan Pasal 114 ayat (2) dan Pasal 112 ayat (2) UU Narkotika dengan pidana paling lama 20 tahun penjara.

Menanggapi dakwaan JPU ini, terdakwa yang didampingi penasihat hukum tidak keberatan atau berniat mengajukan eksepsi.

Sumber Radar Bali

Leave a Reply