Hotel dan Aksi Kemanusiaan

Dewa Gde Satrya. (BP/Istimewa)

Oleh: Dewa Gde Satrya

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) bekerja sama dengan industri perhotelan memberikan tambahan 100 kamar dan transportasi bagi 200 tenaga medis RSCM. Dengan penambahan itu, total 295 kamar untuk 580 tenaga medis RSCM yang telah disediakan dari fasilitasi Kemenparekraf.

Dalam peradaban bangsa di dunia, hotel memiliki banyak peran penting, terlibat di dalamnya dan menjadi saksi sejarah. Peran hotel dalam bencana kemanusiaan mengingatkan kita akan film ‘’Hotel Rwanda’’ tahun 2004. Di film itu, tampak peran hotel bagi kemanusiaan di tengah situasi konflik antara suku Hutu dan Tutsi.

Di Indonesia, pada masa-masa awal kemerdekaan, sejarah heroisme Arek-arek Suroboyo dalam insiden perobekan bendera terjadi di Hotel Yamato (sekarang Hotel Majapahit). Peran hotel di Indonesia dalam sejarah dunia juga tercatat 65 tahun lalu pada peristiwa Konferensi Asia-Afrika (18-24 April 1955). Dalam kondisi terpuruk dan dalam situasi berbahaya, hotel menjadi tumpuan gerakan kemanusiaan universal. Wikipedia mencatat, Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika (KAA) adalah sebuah konferensi antara negara-negara Asia dan Afrika, yang kebanyakan baru saja memperoleh kemerdekaan. KAA diselenggarakan oleh Indonesia, Myanmar (dulu Burma), Sri Lanka (dulu Ceylon), India dan Pakistan dan dikoordinasi oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Sunario. Pertemuan yang berlangsung di Gedung Merdeka, Bandung, Indonesia itu dengan tujuan mempromosikan kerja sama ekonomi dan kebudayaan Asia-Afrika dan melawan kolonialisme atau neokolonialisme Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara imperialis lainnya.

Sebanyak 29 negara yang mewakili lebih dari setengah total penduduk dunia pada saat itu mengirimkan wakilnya. Konferensi ini merefleksikan apa yang mereka pandang sebagai ketidakinginan kekuatan-kekuatan Barat untuk mengonsultasikan dengan mereka tentang keputusan-keputusan yang memengaruhi Asia pada masa Perang Dingin; kekhawatiran mereka mengenai ketegangan antara Republik Rakyat China dan Amerika Serikat; keinginan mereka untuk membentangkan fondasi bagi hubungan yang damai antara Tiongkok dengan mereka dan pihak Barat; penentangan mereka terhadap kolonialisme, khususnya pengaruh Prancis di Afrika Utara dan kekuasaan kolonial Prancis di Aljazair; dan keinginan Indonesia untuk mempromosikan hak mereka dalam pertentangan dengan Belanda mengenai Irian Barat.

Sepuluh poin hasil pertemuan ini kemudian tertuang dalam apa yang disebut Dasasila Bandung, yang berisi tentang ‘’pernyataan mengenai dukungan bagi kedamaian dan kerja sama dunia’’. Dampak dari keputusan itu dirasakan oleh peradaban hingga saat ini. Dasasila Bandung ini memasukkan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB dan prinsip-prinsip Nehru. Sejarah mencatat, konferensi ini akhirnya membawa kepada terbentuknya Gerakan Non-Blok pada 1961.

Setiap melihat sejarah bangsa dan dunia, pastilah pula ada peran hotel yang inklusif di dalamnya. Selain KTT Asia-Afrika, di masa Bung Karno, Indonesia menjadi perhatian dunia dengan menjadi tuan rumah Ganefo dan KTT Non-Blok yang tentu selain untuk memperjuangkan harkat dan martabat bangsa Indonesia, juga untuk kemanusiaan dunia, khususnya negara-negara kecil yang kontra dengan kekuatan blok Barat. Bahkan kesuksesan dari perhelatan dunia itu melibatkan hotel sebagai key performance indicator, selain esensi dari topik bahasan menyangkut kepentingan kehidupan umat manusia.

Sama seperti kisah Hotel Rwanda, Hotel Majapahit, Hotel Savoy Homann yang menyejarah, keterlibatan hotel dalam penanganan wabah Covid-19 juga akan dikenang. Dalam aksi kemanusiaan tersebut, sejumlah jasa dan fasilitas yang dimiliki hotel diberi treatment khusus penyemprotan disinfektan untuk mencegah penyebaran virus Corona, mulai dari ruang pertemuan dan kamar, termasuk semua jenis pelayanan kamar (room service), air conditioning, binatu (laundry and dry cleaning), kasur tambahan (extra bed), perlengkapan tetap (fixture and furniture), fasilitas olahraga dan hiburan, termasuk sarana transportasi hotel untuk antar-jemput tamu. Standar hospitality tetap terlaksana dengan mengutamakan kebersihan lingkungan dan fasilitas hotel untuk memberikan layanan prima.

Meski di satu sisi industri perhotelan menderita kerugian besar dari pandemi ini, tetapi di waktu yang sama, hotel menjadi bagian sebagai duta bagi Indonesia dalam penanganan wabah ini. Tentu saja hal ini berdampak strategis bagi pariwisata Indonesia, di mana kecenderungan wisatawan nantinya ketika berwisata setelah situasi normal akan memberikan perhatian tinggi terhadap kondisi lingkungan, kebersihan dan kesehatan serta jaminan keamanan daerah atau negara yang dituju. Hotel sebagai bagian dari industri pariwisata menjadi penilaian tersendiri yang dapat meningkatkan daya tarik kunjungan.

Pengalaman industri perhotelan dalam menghadapi bencana pernah dibuktikan pelaku hotel di Bali. Sebelum virus Corona merebak, Bali pernah mengalami keadaan darurat bencana alam erupsi Gunung Agung periode 2017 hingga 2018. PHRI Bali menyerukan agar industri hotel khususnya, tidak mengambil keuntungan dari keadaan darurat ini. Komitmen tersebut dibuktikan dengan memberikan harga terendah bagi tamu yang terpaksa memperpanjang waktu tinggal mereka.

Kini, tak hanya industri perhotelan, semua industri yang terkait dengan pariwisata juga bersama-sama menanggung bencana kemanusiaan global ini. Komitmen ini bahkan langsung diperintahkan Presiden Jokowi untuk mengatasi dampak ekonomi virus Corona dengan memberi kemudahan-kemudahan, insentif, dan bahkan tarif yang lebih murah. Kiranya industri perhotelan kita mampu mempertahankan performa humanismenya di tengah bencana kemanusiaan global ini.

Penulis, dosen Hotel & Tourism Business, Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya

Sumber https://www.balipost.com/news/2020/10/19/152980/Hotel-dan-Aksi-Kemanusiaan.html

Leave a Reply