Adakah Hubungan antara Stres dan Serangan Jantung? Ini Penjelasannya

TRIBUN-BALI.COM – Stres kronis dapat menyebabkan munculnya tekanan darah tinggi ( hipertensi) yang merupakan salah satu faktor risiko utama serangan jantung.

Menurut sebuah penelitian pada tahun 2010 di Current Hypertension Reports, stres kronis -entah karena masalah ekonomi, percintaan, dan lainnya, berkontribusi pada terjadinya hipertensi.

Sementara, sekitar 70 persen orang yang mengalami serangan jantung setelah menderita hipertensi.

Seiring waktu, stres yang berkepanjangan tentu dapat berdampak negatif.

Baca juga: Mengandung Enzim Bromelin, Jus Nanas Efektif Mengobati Asam Urat

Baca juga: Kemendikbud: 123 Mahasiswa Positif Covid-19 Setelah Unjuk Rasa UU Cipta Kerja

Baca juga: Polisi Amankan 3 Pemuda Saat Balapan Liar di Bypass Ir Soekarno Tabanan

Misalnya, kecemasan berisiko lebih tinggi terhadap berbagai jenis penyakit jantung, yakni arteri koroner, gagal jantung, dan gangguan irama jantung seperti takikardia.

Selain itu, stres dapat mengaktifkan kebiasaan tidak sehat saat orang berusaha mengatasinya, Misalnya, dengan mulai merokok, mengonsumsi banyak alkohol, atau makan berlebihan yang dapat berdampak pada meningkatkan risiko serangan jantung.

Di samping itu, kita perlu mewaspadai stres yang memengaruhi jantung dengan menyebabkan takotsubo cardiomyopathy  atau yang dikenal sebagai “sindrom patah hati.”

Takotsubo cardiomyopathy terasa seperti serangan jantung dengan gejala nyeri dada dan sesak napas.”

Demikian penjelasan ahli jantung di Dartmouth Hitchcock Medical Center, Lauren Gilstrap, MD.

Gejala tersebut bisa muncul secara tiba-tiba, dipicu oleh peristiwa emosional yang menegangkan, seperti kematian mendadak orang yang dicintai.

Sumber: Tribun Bali

Leave a Reply