Diskriminasi! Warga Larang Mantan Pasien Covid-19 Sembahyang di Pura

SINGARAJA-Tindakan diskriminasi terhadap mantan pasien Covid-19 di Buleleng masih terus terjadi.

Meski telah dinyatakan sembuh dan mengantongi surat sehat dari puskesmas setempat. Banyak dari eks pasien Covid-19 yang masih mendapat perlakuan tak menyenangkan dari sejumlah oknum warga.

Terbanyak, tindakan atau perlakuan diskriminasi yang menimpa eks pasien Covid-19 itu dilakukan secara verbal.

Seperti disampaikan salah satu mantan pasien Covid-19 di Singaraja. Mantan pasien Covid ini mengeluh dengan perlakuan oknum warga yang ditujukan pada dirinya.  

Saat itu dirinya berencana henak keluar rumah, dengan tujuan untuk melakukan kegiatan persembahyangan.

Ia ingin mengucap rasa syukur, karena sembuh dari penyakit covid-19. Setelah masa karantina mandiri berakhir, ia berinisiatif melakukan persembahyangan di Pura bersama keluarga.

Namun, niat baik tak selamanya langsung berbuah baik.  Saat berencana hendak sembahyang, ada sejumlah warga yang meminta agar mantan pasien itu tidak keluar lebih dulu.

Alasannya, karena warga sekitar masih merasa resah. Padahal mantan pasien telah dinyatakan sehat melalui surat keterangan yang disampaikan oleh puskesmas.

Penyintas itu akhirnya diizinkan beraktifitas kembali setelah aparat desa dan aparat kepolisian setempat memberikan pemahaman pada warga.

Terkait diskriminasi yang dialami eks pasien Covid-19, Sekretarias Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Buleleng Gede Suyasa mengungkapkan, masyarakat harus terus meningkatkan pemahaman terhadap penyakit covid-19.

Dengan semakin tingginya tingkat pemahaman, maka potensi perbuatan diskriminatif seharusnya berkurang.

Masa pandemi yang telah berjalan selama 6 bulan terakhir, seharusnya mengurangi potensi perbuatan diskriminatif pada para penyintas.

“Masyarakat harus paham. Kalau dia tidak dalam kondisi sehat, tidak mungkin diberikan pulang dari rumah sakit.

Kalau sudah boleh pulang dari rumah sakit, ya artinya sehat. Apalagi sudah diberikan surat keterangan bebas covid dari dokter penanggungjawab pasien. Ini harus dipahami, supaya tidak terjadi lagi,” kata Suyasa saat ditemui Kamis (8/10).

Meski perbuatan diskriminatif masih saja terjadi, Suyasa menyebut pemahaman masyarakat sudah lebih baik.

Pada awal masa pandemi, perbuatan diskriminatif sangat kentara. Hingga memaksa aparat pemerintahan langsung turun tangan.

“Di lembaga pemerintahan juga ada yang sempat terkonfirmasi positif covid. Pegang jabatan juga. Setelah masa isolasinya berakhir, bisa beraktifitas kembali. Sekarang juga membaur seperti biasa. Memang butuh waktu untuk saling memahami,” imbuhnya.

Sumber Radar Bali

Leave a Reply