UTS Diganti dengan Asesmen, Kadisdikpora Buleleng: Menuntut Siswa Cermat Membaca dan Memahami Kasus

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA – Di tengah pandemi covid-19 ini, Sekolah Dasar dan Menengah kini tidak lagi melaksanakan Ujian Tengah Semester (UTS).

Penilaian dan evaluasi pembelajaran di tengah semester diganti dengan asesmen.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Buleleng, Made Astika pada Senin (5/10/2020) mengatakan, asesmen ini benar-benar menuntut siswa-siswi untuk cermat membaca dan memahami kasus.

Output-nya bisa melihat kemampuan anak dalam menyelesaikan suatu masalah dan dapat merangsang kreativitas.

Direncanakan Sebagai Tempat Simulasi Suntik Vaksin Covid-19, Kemenkes Tinjau Puskesmas Abiansemal I

Update Covid-19 Denpasar, 5 Oktober: Satu Pasien Meninggal, Positif Bertambah 27 Orang dan 9 Sembuh

Dihantam Ombak, Perahu Nelayan di Pantai Seseh Mengwi Terbalik

“Jadi dalam tes asesmen ini, jenis soalnya berupa tes tulis yang lebih menuntut siswa lebih  cermat membaca dan memahami kasus. Sementata UTS dulu kan soal pilihan ganda,” ucapnya.

Dalam melakukan asesmen, guru juga harus mempertimbangkan ketepatan waktu siswa dalam mengumpulkan tugas, serta memperhatikan ASM (Assesmen Kompetensi Minimal) yang berisi tes kemampuan literasi, numerasi dan survey pendidikan karakter.

“Asesmen bisa dilakukan secara daring atau luring, disesuaikan dengan pola masing-masing sekolah.

Asesmen dilakukan dengan harapan guru dan sekolah bisa mengetahui sejauh mana tingkat penguasaan materi anak-anak selama mengikuti proses pembelajaran yang dilakukan lewat daring atau luring,” terangnya.

Asesmen imbuh Astika, bebas dilakukan oleh masing-masing sekolah sesuai kalender pendidikan di satuan pendidikan.

Hanya saja ia menegaskan agar asesmen tidak dilakukan mengikuti pola konvensional, melainkan harus mengukur keterjangkauan peserta didik dalam menguasai materi, dan menekankan pada proses pembelajaran yang diikuti peserta didik selama pandemic covid-19.

“Asesmen tidak ada rentang waktu. Tidak harus pada bulan ke berapa di minggu ke berapa,” terangnya.

Sementara terkait kurikulum yang digunakan oleh sekolah dalam memasuki pertengahan semester ganjil tahun ajaran 2020-2021 ini sebut Astika masih menggunakan kurikulum 2013 (K13).

Sebab hingga saat ini pihaknya masih melakukan survey di lapangan untuk memastikan pola kurikulum daurat nanti baiknya seperti apa.

“Sekolah memang bisa memilih kurikulum apa yang akan digunakan. Kalau sekolah yang bisa full melakukan secara daring bisa menggunakan K13.

Ketuk Palu, DPR Sahkan Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja

Gelar Operasi Yustisi, 20 Orang Terjaring Razia Masker

Pemilik Abuba Steak Meninggal Dunia Setelah Positif Covid-19

Sementara yang luring bisa menggunakan kurikulum darurat. Kurikulum darurat itu sebenarnya berbasis K13 juga, namun dilakukan ringkasan pada KD dan KInya sampai 75 persen,” jelasnya.  (*)

Sumber: Tribun Bali

Leave a Reply